cenitsuryana
Sejak lahir, Nyaicili Nadira Baharuna hidup di bawah bayang-bayang adat dan kehormatan Kesultanan Tidore yang mengatur hampir seluruh jalan hidupnya. Sebagai putri bangsawan keturunan kesultanan, Nadira dibesarkan dengan tata krama istana, aturan keluarga, dan harapan besar untuk menjaga nama baik kerabat kesultanan. Di balik kehidupan yang tampak megah dan penuh penghormatan, ia diam-diam memendam mimpi sederhana: melanjutkan studi di Perancis dan hidup bebas menentukan masa depannya sendiri.
Namun sebelum keberangkatannya, keluarga besar kesultanan menjodohkannya dengan seorang pria bangsawan dari keluarga terpandang di Maluku demi menjaga hubungan dan martabat keluarga. Pernikahan itu bukan tentang cinta, melainkan kesepakatan dua keluarga besar yang telah lama direncanakan. Setelah tiba di Paris, Nadira perlahan menyadari bahwa suaminya menyimpan kehidupan lain yang selama ini disembunyikan darinya.
Di tengah dinginnya negeri asing dan hidup yang perlahan kehilangan arah, Nadira bertemu Aldi Pranata, staf KBRI Indonesia yang membantunya tanpa pernah memandang status bangsawan maupun gelar kesultanannya. Bersama Aldi, untuk pertama kalinya Nadira merasa dihargai sebagai dirinya sendiri, bukan sekadar simbol kehormatan keluarga.
Namun kedekatan mereka berubah menjadi skandal yang mengguncang nama besar keluarga kesultanan. Nadira dipaksa kembali ke Indonesia, sementara hubungannya dengan Aldi terputus tanpa penjelasan.
Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali dalam sebuah pameran batik dan budaya Nusantara internasional di Thailand, saat luka lama belum benar-benar sembuh dan perasaan yang pernah mereka kubur diam-diam masih tersisa.