_ayeeeeee_
"Ice Kastara Ardhyaksa?" tanya seorang polisi, memastikan. Ice hanya mengangguk lemas, memandang kosong polisi di depannya. "Panggil saja Tara" ujarnya. "Baiklah, Tara, bisa ceritakan apa yang terjadi hari itu?"
.
.
"Blaze Kalingga Ardhyaksa? Dan itu terakhir kali kamu melihat kakak kembarmu masih hidup?" tanya polisi itu. Ice mengangguk.
"Bagaimana dengan saudaramu yang lain?" tanya polisi itu lagi.
"Thorn Wilasa Ardhyaksa, Solar Wirasena Ardhyaksa, Taufan Nalendra Ardhyaksa, dan Gempa Nareswara Ardhyaksa" polisi itu memastikan. Ice hanya mengangguk dalam diam, itu adalah percakapan terakhirnya dengan kakak dan adiknya, sebelum akhirnya Ia menemukan jasad mereka.
.
.
"Saat itulah kamu menemukan mayat kelima saudaramu?"tanya sang polisi. Ice mulai bergetar mengingat kembali darah dan seluruh tubuh yang tergeletak di dekat meja makan tempat mereka selalu berkumpul setiap harinya.
.
.
"Bisa ceritakan lebih lanjut tentang kakak sulungmu?" pinta polisi itu sehalus mungkin, "Halilintar Nararya Ardhyaksa".
.
.
"....eh?"
.
.
"Aku akan menawarkan sesuatu yang menarik bagimu" suara itu berkata kembali, "Akan ku putar waktu sebelum tragedi ini terjadi, sisanya tergantung usahamu sendiri" suara itu melanjutkan.
"Apa yang kau inginkan sebagai gantinya?" tanya Ice, tidak ada yang gratis, Ia paham betul itu. Tidak ada yang gratis
.
.
"Semoga beruntung, kontraktor" semuanya jadi hitam.