viviii_2308
- Reads 1,939
- Votes 1,355
- Parts 27
𝐒𝐮𝐫𝐚𝐛𝐚𝐲𝐚 𝐋𝐨𝐯𝐞 𝐋𝐚𝐭𝐭𝐞𝐫 adalah cerita coming-of-age yang membedah luka, pulih, dan arti "rumah" lewat kisah Bavhya, gadis 16 tahun yang tumbuh di antara angka-angka Ayah dan kesibukan Ibu.
Cerita ini membuka luka dasar Bavhya: rumahnya di Surabaya justru terasa paling bising. Ayah tenggelam di laptop, Ibu fokus ke adiknya, sementara Bavhya menghitung retakan dinding kamar, berharap ada celah buat kabur. Bagi dia, rumah bukan tempat aman. Maka saat percaya bahwa cinta bisa jadi tiket keluar, dia nggak ragu percaya saat Eky-effortless handsome, memanggilnya "rumah".
Lima bulan di Lumajang jadi musim semi Bavhya. Ada Eky yang ngajak bolos ke Ranu Agung, nebeng hujan di pasar, berbisik janji di lereng Semeru: "Kamu adalah rumah, Bavy. Aku nggak mau kehilangan rumah lagi." Di keluarga yang retak, kata "rumah" dari orang baru terdengar seperti penyelamatan. Bavhya menggenggamnya erat.
Tapi cinta yang diburu karena luka gampang salah alamat. Notifikasi story Eky, _finallyhome_, menghancurkan Bavhya. Dia sadar: rumah punya banyak pintu. Dan dia cuma salah satu kamar singgah. Dia pesan tiket paling pagi pulang ke Surabaya-ke stasiun yang dulu dia benci, karena setidaknya bisingnya jujur.
Surabaya menyambut sama panasnya, tapi Bavhya sudah beda. Hidupnya jadi transit: kuliah, pulang, rebahan. Sampai dia bertemu Ryderihsan Calistus, "Ihsan".
Berbeda dari Eky, Ihsan nggak pernah bilang "aku rumahmu". Nggak pernah janji "selamanya". Yang dia lakukan cuma datang. Jadi payung saat hujan, nemenin keliling sudut kota tanpa nanya "udah berapa lama". Tulusnya nggak berisik, tapi konsisten. Bersama Ihsan, Bavhya belajar berhenti kabur.
Tanjung Perak tempat yang dulu jadi saksi patahnya Bavhya, kini jadi saksi pulihnya. Satu tahun setelah patah, Ihsan bilang: "Laut itu kayak hidup, Bavy. Kadang pasang, kadang surut. Tapi selama kamu mau nunggu di dermaga, aku akan selalu pulang." Kalimat sederhana itu akhirnya membuat Bavhya bera