k_ren00
- Reads 2,380
- Votes 347
- Parts 11
Dendam tak pernah mati. Ia hanya tidur, berakar di tanah luka, menunggu hujan air mata untuk mekar.
Dulu, Xia Liu Yi adalah musim panas: terik, menyilaukan, membakar siapa saja yang berani mendekat tanpa pangkat. Dengan jemari berhiaskan cincin emas, ia meremukkan selembar surat cinta dan menaburkannya ke hadapan Chusan-anak beasiswa yang datang dengan sepatu menganga dan mimpi yang terlalu tinggi.
Waktu bergulir. Tuhan menukar peran. Musim panas Liu Yi membeku. Hartanya luruh, papanya menjadi tanah, mamanya menjadi angin yang pergi tak kembali. Kini ia hanya anak kucing jalanan, menggigil di bawah bulan purnama, menjaga tas lusuh berisi seluruh hidupnya.
Lalu malam itu datang. Pisau begal, jerit yang pecah, dan raungan motor yang membelah takdir. Seorang pria turun dari kegelapan, menumbangkan lawannya dengan dingin yang lebih menusuk dari udara. Saat helm terbuka, Liu Yi melihat wajah masa lalu yang menjelma jadi kutukan: rahang yang mengeras, mata yang tak lagi menunduk. Itu Chusan. Anak miskin yang dulu ia injak, kini berdiri sebagai tembok marmer-megah, keras, tak terjangkau.
Chusan menatapnya seperti orang asing. "Kita pernah ketemu?" tanyanya, sopan seperti belati berlapis sutra.
Di antara keduanya, aroma Oleander menguar. Bunga yang cantiknya adalah racun. Sama seperti dendam yang mereka simpan, sama seperti cinta yang tak pernah mati, hanya berubah wujud.
Ini bukan kisah tentang maaf. Ini kisah tentang bunga yang tumbuh dari bangkai rasa. Tentang dua manusia yang saling menagih: satu menagih keadilan, satu lagi menagih kesempatan kedua yang mungkin sudah tak ada.
Karena karma, jika telah mekar, tidak akan layu sebelum ada yang terluka.