RAINLAV
- Reads 142
- Votes 43
- Parts 29
"Masuk!" Tante Sinta membentak, bukan suatu hal yang baru.
Tubuhku sedikit tersentak ketika si indra pendengar terekspos dengan suara dentuman pintu mobil yang dibanding kasar. Kasihan juga Tante Sinta, harus menghentikan pekerjaannya di pukul 10.38 pagi seperti ini hanya karena keponakannya yang lagi-lagi berkelahi dengan siswa lain.
"Tante tuh gak ngerti mau kamu apa sebenarnya." Dia mulai mengeluarkan unek-uneknya seperti biasa. Pedal rem diinjak tiba-tiba, kepalaku nyaris membentur dasbor mobil.
Tante Sinta menghela napas panjang. Ia menoleh ke samping, menatap wajahku yang penuh dengan luka dan lebam. Kini ekspresinya berubah menjadi prihatin. "Tante kasihan sama kamu, Kalina ... Tante gak bohong.
"Tapi kalau kamu gini terus, kamu ngeganggu kerja Tante juga. Terus yang mau bayar sekolah kamu siapa? Yang mau biayain hidup kamu siapa kalau bukan Tante?"
"Aku gak pernah mukul siapa-siapa." Aku membela diri.
Tante Sinta meraup wajahnya frustrasi, menunjukku dengan seluruh jari di tangan kanannya. "Justru itu, Kal! Justru itu! Kamu seakan-akan cari gara-gara biar dipukulin."
Aku terdiam. Tidak bisa menahan senyum.
"Kamu gak pernah ngelawan dan ... ugh!" Tante Sinta menggeram penuh dendam. "Tante gak tahu kenapa kamu ikut diskors juga sama anak-anak nakal itu."
Aku yakin aku tidak dikeluarkan dari sekolah hari itu, hanya diskors seperti biasa. Satu pekan, dua pekan mungkin? Aku tidak tahu. Namun, ketika aku dimasukkan kembali ke sekolah, sekolah itu sudah bukan sekolahku yang dulu.
"Tante masukin aku ke asrama?" tanyaku tajam saat kami sudah berada di hadapan bangunan luas yang menjulang tinggi dengan aksen merah dan biru yang didominasi dengan warna putih.
Wajah Tante Sinta tersenyum, senyumnya terlihat lelah, seperti orang yang sudah tidak tahu harus melakukan apa-mungkin memang wanita itu sudah tidak tahu harus melakukan apa dan Pratama Boarding School ini seakan-akan menawarkan harapan untukku berubah.
Shit. Kayaknya gue salah strategi.
***