rahmahs_journey
- Reads 118
- Votes 26
- Parts 20
"Itu iblis! Dipengaruhi iblis!" teriak ayah.
Mendengar itu, tangan saya yang sedang menyiapkan bekal karena hendak pergi berenang, berhenti sejenak.
Bisakah iblis merasuki tangan seseorang untuk menulis sehingga membuat setiap orang yang membaca tulisannya merasakan sensasi-sensasi aneh?
Malam sebelumnya saya berbincang dengan kakak ipar.
"Sudah dibaca bukunya? Gimana?" tanya saya.
"Boro-boro dibaca," matanya mulai membesar. "Begitu paketnya dibuka, seperti ada yang bergentayangan. Langsung kakak tutup lagi!"
Tawa saya meledak melihat ekspresinya yang ketakutan sekaligus lucu.
"Serius, langsung bikin merinding. Seumur-umur kakak ga pernah menemukan buku semacam itu. Energinya begitu kuat. Kakak masukkan ke dalam lemari dan dikunci! Takut!"
Saya semakin tergelak.
"Buku apa?" tanya ayah yang sedang memberi makan keempat burung daranya, tak jauh dari kami.
"Buku yang aku tulis. Kemarin kan aku bilang lagi nulis buku," jelas saya pada ayah.
Tapi memang aneh sekali buku itu. Sejak beredar, saya menerima banyak pesan dari para pembaca.
Ada yang mengaku setiap kali hendak membaca, tiba-tiba rasa kantuk datang.
Ada yang baru membaca beberapa halaman, bulu kuduknya meremang, jadi diakali dengan mendengarkan playlist lagu dangdut agar lebih rileks.
Beberapa merasa didatangi oleh penulisnya.
Dan, jakak ipar saya sendiri, sampai hampir satu bulan, tak pernah punya keberanian untuk sekadar membuka plastik pembungkusnya.
Maka, siang itu keluarlah kalimat yang sudah sangat saya hafal dari mulut ayah saya.
"Syekh Abdul Qadir Jaelani itu orang yang sangat alim, tapi iblis masih berani menggodanya."
Saya tahu ke mana arah pembicaraan itu. Selama bertahun-tahun, setiap kali menceritakan perjalanan batin yang saya alami, ayah selalu mematahkannya.
Pengalaman seperti apa itu?
Yang jelas bukan pengalaman yang dapat didefinisikan sebagai "normal".
Semuanya dihimpun menjadi cerita pendek bertajuk " Sekolah Tanpa Ruang Kelas".