nagawana
Desa Aryawangsa dikenal sebagai tempat yang damai. Udara selalu sejuk, sawah menghijau terbentang luas, dan sungai bening membelah pemukiman dengan suara alirannya yang menenangkan. Di sinilah Awan dibesarkan.
Ia tumbuh dalam keluarga yang sederhana namun penuh kasih: hanya bersama ayah, ibu, dan kakeknya. Hidup mereka tenang, jauh dari keributan dunia luar. Tak ada kekhawatiran, tak ada ketakutan - hanya kedamaian yang seolah akan abadi selamanya.
Namun kedamaian itu tak selamanya bertahan.
Suatu malam, angin berhembus membawa bau tanah kering dan sesuatu yang asing, menusuk hidung. Sejak hari itu, segala sesuatu berubah. Tanah yang dulu subur mulai retak dan gersang. Air sungai yang jernih perlahan keruh, bahkan makin menyusut. Penyakit aneh menyebar diam-diam, membuat warga jatuh sakit tanpa diketahui sebabnya. Suara hutan yang dulu riuh kini hening, seolah takut mengeluarkan bunyi.
Orang tua desa pun akhirnya berbicara: ini bukan musibah biasa. Ini kutukan yang terbangun - yang selama ratusan tahun tertidur dan kini terbangun kembali.
Di tengah kekalutan itu, Awan mendapati dirinya ditunjuk oleh takdir. Sebuah tanda yang selama ini tersembunyi di tubuhnya mulai terasa berdenyut, seolah memanggil untuk bertindak. Ia sadar: kedamaian yang ia rasakan selama ini harus diperjuangkan.
Maka, di usia yang masih muda itu, Awan melangkah keluar dari batas desa yang dicintainya. Ia harus menempuh jalan yang belum pernah dilalui siapa pun, menyusuri rahasia masa lalu, dan menghadapi kekuatan yang lebih besar dari apa pun yang pernah dibayangkannya.
Di sanalah, perjalanan panjang Nagawana Aryawangsa dimulai.