NabilaQurrotulAyunin
"Cuma teman aja, kok."
Lagi dan lagi, kalimat itu terucap dari dua orang yang sama-sama punya rasa, tetapi terhalang agama. Shaka yang wajahnya terlihat dingin dan angkuh, nyatanya adalah cowok yang tengil dan humoris. Di pertemukan dengan Bira, gadis cantik dengan sifat ceria dan receh. Di balik tameng kata "teman", keduanya menyimpan perasaan yang sama. Bukan sekadar gengsi yang menahan mereka untuk jujur, melainkan fakta bahwa mereka menyebut nama Tuhan yang berbeda dalam doa. Bira tumbuh di lingkungan keluarga yang lengkap namun tak cemara. Baginya, rumah hanyalah sebuah bangunan kokoh dan hangat jika dilihat dari luar, tapi dingin dan asing di dalamnya. Sifat receh dan tawa ceria yang ia tunjukkan di luar rumah hanyalah topeng yang ia pakai. Itu adalah cara Bira untuk menutupi lukanya agar dunia tak melihatnya. Berbanding terbalik dengan Shaka yang memiliki keluarga utuh sekaligus cemara. Shaka di besarkan dengan penuh kasih sayang oleh keluarganya, menjadikannya sosok yang tengil namun tau aturan dan humoris kepada orang-orang terdekatnya. Awalnya, perbedaan itu terasa melengkapi. Shaka yang humoris mampu membuat Bira merasa nyaman dan aman berada di dekatnya . Serta candaan tengil Shaka selalu berhasil membuat Bira sejenak melupakan beban pikirannya. Di sisi lain, tawa Bira adalah hal yang indah bagi Shaka. Mereka tertawa bersama, berbagi cerita, dan saling menyembuhkan luka tanpa sadar. Namun, kedekatan mereka yang semakin dalam justru membuat mereka menyimpan perasaan satu sama lain. Dari banyaknya perbedaan di antara mereka, mungkinkah Shaka dan Bira akan bersama dan saling menguatkan? Atau, mereka justru harus merelakan satu sama lain dan menjadi asing tanpa sebuah kejelasan?