Rafriandi
Katanya waktu adalah obat.
Dia sudah menelan tiga tahun. Tapi luka itu tidak kunjung sembuh. Dia memilih untuk tidak berbohong. Tidak pada dirinya, dan tidak pada orang lain. Ia tidak mencari pengganti untuk menambal noda di hatinya. Ia tidak berteriak. Ia hanya diam. Namun diam punya harga. Masa lalu mengetuk pintu. Masa depan menawarkan tangan. Dan di tengah keduanya, ia harus memutuskan: Apakah berani menaruh titik, atau selamanya hidup di dalam koma?
Titik. Sebuah novel tentang keberanian untuk tidak sembuh dengan cepat.