SIR_FINWE
"Bahkan cahaya yang paling murni pun dapat menjadi alasan lahirnya kegelapan, apabila jatuh ke dalam hati yang kehilangan kerendahan."
Selama tiga ribu tahun, Run berdiri sebagai negeri tanpa malam. Di bawah cahaya Huvalin, para Vaelor hidup dalam kedamaian, sementara bangsa Elf membangun harapan baru setelah selamat dari perang pertama melawan sang pengkhianat, Merion. Mereka percaya kegelapan telah berakhir.
Mereka percaya belas kasih telah mengubah hati yang pernah dipenuhi kesombongan. Mereka percaya seorang saudara telah kembali. Mereka salah.
Pada malam ketika seluruh Run menantikan kelahiran anak-anak kedua Sang Ibunda, langit yang tak pernah mengenal gelap mendadak retak. Dari balik bayang-bayang, seekor naga hitam yang lahir dari hasrat dan kedengkian merobohkan Huvalin, merampas cahaya sucinya, sementara di tempat lain darah seorang raja elf membasahi lantai istananya. Bersama kematian itu, tiga Cincin Selerin mahakarya terindah yang pernah diciptakan bangsa Elf-lenyap ke dalam tangan sang pengkhianat.
Sejak malam itu, cahaya tidak lagi menjadi lambang kedamaian. Ia menjadi sesuatu yang diperebutkan. Di antara para Vaelor yang terpecah oleh belas kasih dan kewajiban, di antara para Elf yang diwarisi luka dan dendam, dan di tengah kelahiran umat manusia yang belum mengenal dunia, sebuah perang baru perlahan mulai ditulis. Namun jauh sebelum pedang pertama dihunus, peperangan itu sesungguhnya telah dimulai di dalam hati seorang anak yang mengira dirinya mampu melampaui semua saudaranya.
Karena kegelapan tidak selalu lahir dari kebencian. Kadang ia bermula dari bisikan yang sederhana- "Aku dapat menciptakan dunia yang lebih baik." Dan sejak saat itu, seluruh Ea belajar bahwa tidak ada kehancuran yang lebih mengerikan daripada cahaya yang dicuri oleh mereka yang dahulu pernah menjadi bagian darinya.