Dessert_Wiyy
- Reads 365
- Votes 34
- Parts 12
⚠️Plagiat? Big No!⚠️
By. Dessert_Wiyy
Di dalam rumah yang luas dan megah ini, ketujuh anak laki-laki itu tinggal berdampingan namun tak pernah merasakan sedikit pun kehangatan keluarga. Dinding-dinding tinggi tak melindungi mereka, melainkan mengurung mereka. Mereka tak lebih dari sekadar samsak hidup bagi kedua orang tuanya - tempat melampiaskan amarah, sasaran kemarahan yang tak pernah beralasan, pelampiasan segala rasa sakit yang tak pantas diterima anak-anak.
Tak ada pelukan, tak ada kata lembut, tak ada senyum tulus. Yang ada hanyalah suara bentakan yang bergema, tamparan yang mendarat kapan saja, dan tubuh-tubuh kecil yang menahan rasa sakit berulang kali, hari demi hari. Keheningan yang terasa berat senantiasa menyelimuti ruangan, diselingi hanya oleh suara napas berat yang tertahan di kerongkongan dan tetesan darah yang jatuh perlahan - pelan, tak bersuara, dari luka yang tak pernah diobati maupun diakui.
Mereka berdiri saling berjauhan, menanggung rasa sakit sendirian, menyembunyikan memar dan luka di balik pakaian, berusaha tetap berdiri tegak meski tubuh dan hati perlahan semakin hancur. Rumah ini tak pernah menjadi rumah; tak ada kasih sayang, tak ada rasa aman. Hanya ada tujuh nyawa yang terus dipukul dan dihina, yang dipaksa tetap bernapas sambil perlahan kehilangan dirinya - diiringi napas berat yang saling bersahutan, dan darah yang terus menetes pelan demi pelan, membasahi lantai dingin yang tak pernah peduli pada siapa pun yang terluka.
Enhypen