buahdaun
Riuh yang dulu mendukungnya untuk bangkit kini malah membuatnya terjatuh dalam keadaan yang tidak pernah ia pikirkan, dalam kebencian menjadi ballerina sesungguhnya dia masih mencintai rasa sakit yang didapat dari sepatu ballet miliknya.
Luka di ujung kaki, kuku yang patah, hingga otot yang terus dipaksa bekerja seolah menjadi pengingat bahwa setidaknya ada sesuatu yang benar-benar ia rasakan. Bukan karena ia menikmati penderitaan, tetapi karena rasa sakit itu terasa lebih jujur daripada hidup yang selama ini dijalaninya.
Yang ia benci bukan baletnya. Bukan panggungnya. Bukan pula musik yang selalu mengiringi setiap langkahnya. Ia hanya lelah hidup untuk memenuhi mimpi orang lain. Setiap tepuk tangan yang terdengar begitu meriah justru terasa semakin hampa, sebab tak satu pun ditujukan untuk dirinya yang sebenarnya.
Di balik setiap putaran yang tampak indah, ada seorang gadis yang diam-diam berharap suatu hari nanti ia bisa menari tanpa rasa takut. Bukan karena dipaksa, bukan karena tuntutan, melainkan karena itu adalah pilihannya sendiri.