Hanbun17
- LECTURAS 11
- Votos 6
- Partes 5
Arsurya Permadi Nugraha terbiasa mencari kebenaran di ruang sidang.
Sebagai pengacara muda yang kariernya sedang menanjak, hidupnya dipenuhi berkas perkara, pasal-pasal hukum, dan tuntutan untuk selalu berpihak pada bukti. Baginya, dunia cukup sederhana: ada yang benar, ada yang salah.
Setidaknya, begitulah yang ia yakini.
Sampai suatu malam di Prambanan Jazz Festival, di antara ribuan orang yang larut dalam musik, ia bertemu seorang perempuan asing yang tersesat.
Namanya Adhistara Kirana Larasati, seorang sejarawan muda yang lebih percaya bahwa setiap kisah memiliki lebih dari satu sudut pandang.
Alih-alih memperkenalkan diri, perempuan itu justru melontarkan sebuah pertanyaan yang terus mengganggu pikiran Surya.
*"Menurutmu Bandung Bondowoso itu jahat? Bukankah dia cuma ingin mengambil sesuatu yang memang menjadi haknya setelah memenangkan sayembara?"*
Pertanyaan sederhana itu menjadi awal dari perjalanan yang tak pernah Surya bayangkan.
Di sela-sela festival musik, aroma kopi, perjalanan ke situs-situs bersejarah, dan percakapan yang mengalir tanpa tergesa, keduanya perlahan menyadari bahwa sejarah, seperti lagu, selalu memiliki bagian yang diingat dan bagian yang dilupakan.
Sementara Surya belajar bahwa keadilan tidak selalu sama dengan kebenaran, Adhistara harus menghadapi kenyataan bahwa memahami masa lalu tak berarti boleh melupakan masa kini.
Karena mungkin...
bukan hanya legenda yang selama ini disalahpahami.
Melainkan juga manusia yang ada di dalamnya.
---
"Tidak semua tokoh yang disebut jahat benar-benar jahat. Kadang mereka hanya tidak diberi kesempatan untuk menceritakan versinya."