KomunitasAksaraJiwa
Di negeri ini, mikrofon tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya tahu, kapan harus diam, atau
berhenti.
Setiap konferensi pers punya koreografinya sendiri: pertanyaan yang sudah dijinakkan, jawaban
yang sudah dilatih, dan tepuk tangan yang datang terlalu tepat waktu. Seperti orkestra tanpa
jiwa, melupakan musik apa yang sebenarnya sedang mereka mainkan.
Alya baru sekali duduk di ruangan itu. Ia belum tahu bahwa mikrofon di depannya sudah lebih
dulu tahu kapan harus mati. Sepersekian detik, tepat sebelum kejujuran sempat lolos dari balik
tabir.
Di sebelahnya, Broto sudah lama berhenti terkejut. "Tulis saja apa katanya," katanya. Kalimat
yang terdengar seperti menyerah, padahal itu bekas luka yang dipoles jadi nasihat getir
Dan di podium, Pak Wisnu Adiraga tersenyum dengan penuh kefasihan seorang yang sudah
menghafal setiap jengkal kebohongannya, sampai terasa lebih nyata dari kebenaran.
Mikrofon Mati Sebentar, bukan tentang siapa yang berbicara, tapi tentang siapa yang
mengizinkan dirinya didengar dari panggung kehormatan. Dan tentang jeda paling singkat di
dunia: ruang sunyi antara pertanyaan dan kepatuhan, tempat satu generasi wartawan
terus-menerus diuji - apakah mereka akan jadi suara, atau hanya menjadi gema.