bgzt_gnr
Kibar bendera matahari merah dengan jari-jari tajam yang memancar kini membentang di udara, melenyapkan sisa-sisa warna biru yang diturunkan paksa dari tempatnya.
Seruan dalam bahasa yang asing terdengar memenuhi pengeras suara di sudut jalan, beradu dengan debu kendaraan militer dan derap sepatu lars yang menghantam tanah yang mengeras.
Dalam sekejap, tanah tempat Ratih membendung napas berubah asing, dipenuhi bau knalpot yang pekat dan bisik-bisik ketakutan di balik pintu kayu yang pasak-pasaknya terkunci rapat.
Ratih hanya ingin merawat apa yang tersisa dari rumahnya. Namun zaman tak pernah memberi izin bagi siapa pun untuk tetap bersembunyi.
Diantara ketegangan yang mengepung desa, takdir menyudutkannya pada Akira. Pemuda itu berdiri dalam balutan seragam hijau lumut dengan lambang bintang di topi, lambang dari negeri yang merampas kedaulatan tanah tempat Ratih berpijak.
Di tempat yang seharusnya penuh kebencian, hati mereka saling menautkan pertanyaan yang tak terucap.
Namun perang tak pernah menyisakan ruang bagi ketenangan yang rapuh. Saat bambu-bambu diruncingkan dan senjata diangkat, Ratih dan Akira berhadapan pada takdir yang menagih dengan harga mahal.