nalsyie
- Reads 363
- Votes 42
- Parts 21
"Ada negeri-negeri yang dikenang karena kemenangan. Ada pula yang dikenang karena kehilangan. Namun Arundaya... dikenang karena pernah melahirkan manusia-manusia yang memilih mempertahankan harga dirinya, bahkan ketika mereka tahu takdir tak akan berpihak kepada mereka."
Tak seorang pun benar-benar mengetahui kapan kisah ini bermula.
Sebagian percaya semuanya bermula ketika layar-layar asing pertama kali muncul di ufuk utara. Sebagian lainnya meyakini kisah ini telah ditulis jauh sebelum kapal-kapal itu meninggalkan pelabuhan asalnya. Boleh jadi, keduanya benar. Sebab, setiap pertemuan selalu didahului oleh perjalanan, dan setiap kehilangan selalu diawali oleh sebuah kedatangan.
Di tanah bernama Arundaya, tumbuh sebuah pohon kenanga di halaman pendopo kadipaten. Usianya telah melampaui beberapa generasi-bahkan tak ada seorang pun yang mampu mengingat siapa yang pertama kali menanamnya. Para tetua desa hanya mewariskan sebuah kisah yang terus hidup dari mulut ke mulut: konon, selama pohon itu tetap berbunga, Arundaya akan selalu menemukan harapan.
Namun, apabila bunga pertama gugur sebelum musimnya, negeri itu akan kehilangan seseorang yang paling dicintainya.
Bertahun-tahun lamanya, kisah itu tak pernah dianggap lebih dari sekadar dongeng pengantar tidur bagi anak-anak. Hingga suatu pagi, ketika embun masih menggantung di ujung daun dan matahari belum sepenuhnya terbit, seseorang mendapati setangkai bunga kenanga tergeletak sendirian di atas tanah yang masih basah.
Tak ada yang menyadari bahwa pagi itu bukan sekadar awal dari sebuah musim. Sejak hari itulah, sejarah Arundaya mulai membuka halaman paling menyakitkannya.