Putra5758
- Reads 175
- Votes 22
- Parts 33
SANTRI PINGGIRAN
Di era ketika semua orang ingin viral, seorang santri belajar menjadi benar tanpa harus terkenal.
Raka Wijaya tidak pernah bermimpi menjadi santri.
Setelah nilai sekolahnya menurun, kecanduan gawai, dan mulai kehilangan arah, ia dikirim ayahnya ke sebuah pesantren di pelosok Tulungagung. Bukan untuk seminggu. Bukan untuk sebulan.
Tiga tahun.
Tanpa smartphone. Tanpa TikTok. Tanpa kehidupan yang selama ini ia kenal.
Hari-hari pertama di Pesantren Al-Falah terasa seperti hukuman. Bangun sebelum subuh, mengaji, sekolah, latihan silat, belajar kewirausahaan, lalu mengaji lagi sampai malam. Raka bahkan sempat menyusun rencana untuk kabur.
Namun pesantren ternyata tidak sesederhana yang ia bayangkan.
Di Kamar 7, ia menemukan Fajar yang kocak, Doni yang berjuang mempertahankan beasiswanya, La Ode yang membawa tradisi dari tanah Sulawesi, serta Kang Burhan yang awalnya ia anggap sebagai senior galak tetapi perlahan justru menjadi salah satu orang yang paling ia hormati.
Raka mulai berubah.
Ia belajar bahwa agama tidak harus membuat seseorang berhenti berpikir. Ia mulai berani mempertanyakan mitos, membedakan tradisi dengan keyakinan, belajar silat, mengenal dunia kewirausahaan, bahkan menemukan ketertarikan pada dunia literasi melalui tulisan seorang santriwati bernama Aisyah.
Tetapi di balik rutinitas pesantren, ada sesuatu yang tidak beres.
Sebuah akun media sosial rahasia diam-diam merekam kehidupan para santri.
Lalu sebuah video muncul.
Video latihan silat yang memperlihatkan Raka jatuh setelah ditendang seorang senior tiba-tiba viral. Dengan caption provokatif, video itu menggambarkan Pesantren Al-Falah sebagai tempat yang penuh kekerasan.
Dalam hitungan jam, opini publik terbentuk.
Pesantren dituduh. Raka dicurigai. Para santri saling mencurigai.
Dan ketika kamera televisi mulai mengepung gerbang pesantren, Raka sadar bahwa masalahnya jauh lebih besar daripada sebuah video.
Ia harus mencari tahu siapa yang berada di balik akun rahasia