ellaaraa
Magadha berdiri megah di bawah panji Dinasti Maurya. Di balik tembok Pataliputra yang kokoh, Bindusara menempa diri dalam bayang-bayang agung sang ayah, Chandragupta Maurya. Sejak tarikan napas pertamanya, hidup sang pangeran bukan lagi miliknya sendiri; ia adalah abdi kebesaran kerajaan, tempat setiap keinginan hati harus diredam demi mematuhi titah mahkota yang menuntut pengorbanan.
Jauh di selatan, Kerajaan Pandya berdiri dalam keagungan yang berbeda. Di bawah asuhan Raja Malayadhvaja dan Ratu Kanchanamala, tumbuh tiga bersaudara pilar istana: Pangeran Nivajelyan, Pangeran Kaviraj, dan sang bungsu, Putri Shanvi. Gadis itu bertutur selembut sulaman sutra dan bersikap setenang riak telaga fajar, namun di balik mata jernihnya, tersimpan keteguhan jiwa yang tak goyah oleh badai kekuasaan.
Magadha dan Pandya tidak pernah saling mengacungkan pedang sebagai musuh. Namun, perbedaan angin politik membuat keduanya kerap berdiri di sisi berseberangan, merajut jarak tak kasat mata yang menjauhkan jalan mereka dari persinggungan.
Namun, benteng sekokoh apa pun tak mampu menahan getaran rasa. Bindusara tahu betul siapa Shanvi, sang putri selatan yang namanya kerap ditiup angin hingga ke utara. Peta kekuasaan menggambar batas tegas, tetapi hati sang pangeran menolak patuh pada garis politik. Di balik keheningan malam Pataliputra, ia menyadari perang terhebatnya bukanlah menundukkan kerajaan asing, melainkan meredam gemuruh di dadanya sendiri-perang paling sunyi melawan hati yang telah memilih Putri Shanvi, bahkan sebelum takdir mempertemukan langkah mereka.
---
~ Maurya fanfiction ~