amrallalena
Mingi tidak pernah percaya bahwa seseorang bisa terasa seperti rumah.
Baginya, rumah adalah tempat. Sebuah bangunan yang bisa ditinggalkan kapan saja ketika hidup membawa seseorang ke tempat lain.
Sampai Yunho datang.
Yunho adalah orang yang selalu ada di sampingnya. Sahabat yang mengetahui sisi dirinya yang tidak pernah ia tunjukkan kepada orang lain. Bersama Yunho, Mingi bisa tertawa tanpa alasan, bercerita tentang hal-hal kecil, dan menjadi dirinya sendiri tanpa takut dihakimi.
Mereka tumbuh bersama dan perlahan menjadi bagian penting dalam kehidupan satu sama lain.
Namun, tidak semua hal yang terasa seperti rumah ditakdirkan untuk selalu menetap.
Sebuah keadaan memaksa mereka berpisah. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada perpisahan yang dramatis. Hanya jarak yang perlahan membuat percakapan mereka berkurang hingga akhirnya hampir tidak ada.
Waktu berlalu.
Ketika mereka akhirnya bertemu kembali, Mingi dan Yunho sudah berubah. Mereka bukan lagi dua anak yang selalu menghabiskan waktu bersama.
Tetapi anehnya, di antara begitu banyak orang yang mereka temui selama bertahun-tahun, hanya satu orang yang masih terasa begitu familiar.
Yunho bagi Mingi.
Mingi bagi Yunho.
Mungkin mereka memang tidak bisa kembali menjadi seperti dulu.
Tapi mungkin juga, rumah tidak pernah benar-benar hilang.
Karena sejauh apa pun seseorang pergi, terkadang hatinya tetap tahu ke mana ia harus pulang.
Home isn't a place.
Home is a person.