fantasi
1 story
Fantasi yang Membara (Cuckolding Fantasy) by Singkarak157
Singkarak157
  • WpView
    Reads 6,808
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 10
Kamar tidur itu rasanya sunyi banget malam ini, tapi sebenarnya gak sepi-sepi amat kalau kuping dipasang benar-benar. Bunyi desis angin dari AC yang nempel di dinding kamar menyamarkan suara lain yang ada di atas kasur. Ada suara napas yang kedengaran gak teratur dari dua orang yang lagi di atas ranjang. Dada yang naik turun itu menyembunyikan detak jantung yang bunyinya makin kencang kayak mau copot. Setiap kali badan bergerak, ada suara gesekan kain seprai yang kedengaran jelas banget di kamar itu. Kulit yang mulai basah karena keringat bikin kain yang menempel jadi terasa makin seret waktu digeser. Lampu tidur dengan wadah tembaga di sudut ruangan memancarkan warna kuning yang terasa hangat. Sinar lampu yang temaram itu pas banget menyorot lekuk tubuh milik Vita yang malam ini kelihatan polos. Vita sengaja merebahkan badannya sampai terlentang lurus di atas kasur yang dialasi seprai satin. Kain seprai yang warnanya krem itu terasa licin dan agak dingin waktu kena kulit punggung Vita. Tepat di bagian dada Vita, ada telapak tangan milik Sandi yang ukurannya lebar lagi menempel pas. Sandi mulai membuka lebar jari-jarinya yang terasa hangat di atas kulit yang mulai berkeringat itu. Gerakan tangan Sandi lambat banget, dia merambat pelan dari bagian tulang selangka Vita menuju ke bawah. Dia sengaja menelusuri setiap bagian gundukan payudara Vita yang kenyal dan ukurannya pas di tangan. Dada Vita sendiri kelihatan naik turun dengan cepat karena dia sudah mulai merasa sesak napas. Sandi mendekatkan mukanya ke kuping Vita sampai kumis tipisnya menusuk-menusuk halus di sana. "Kamu kelihatan sempurna banget malam ini, Sayang," bisik Sandi dengan suara yang kedengaran parau. Vita cuma bisa diam sambil menahan napasnya yang mulai terasa berat di dalam tenggorokan. "Masa sih?" tanya Vita sambil memicingkan matanya yang agak mengantuk. "Iya, aku gak bohong," sahut Sandi lagi sambil mengecup sudut bibir istrinya. "Gombal terus," kata Vita yang aslinya merasa