carakaarcher
Di Kerajaan Amathia, pernikahan bangsawan bukan sekadar ikatan dua insan. Pernikahan dapat menjadi perjanjian politik, alat penyeimbang faksi, jaminan perdamaian, sekaligus cara mahkota mengendalikan keluarga-keluarga paling berpengaruh.
Hansel Maurits Heden, seorang Marquess yang berasal dari salah satu keluarga militer paling tua di kerajaan, telah lama mencintai seorang wanita lain.
Namun demi stabilitas kerajaan, ia diwajibkan bertunangan dan menikahi Daphne Elodie Aureus, putri bungsu Duke of Aureus sekaligus keponakan langsung Kaisar dari garis ibunya.
Daphne telah mencintainya sejak masa kanak-kanak.
Ia tidak pernah meminta pria itu mencintainya.
Ia hanya pernah menginginkan satu hal, agar setelah menikah, setidaknya ada satu bagian dari dirinya yang benar-benar menjadi milik pria tersebut.
Karena itu, keluarga mereka membuat sebuah perjanjian pernikahan yang sangat tidak lazim.
Selama female lead belum melahirkan pewaris, Hansel Maurits Heden tidak diperbolehkan mengambil mistress, memiliki hubungan dengan wanita lain, atau menyentuh perempuan lain secara intim.
Sebaliknya, setelah pewaris berhasil diberikan, kontrak tersebut berakhir untuk urusan eksklusivitas ranjang.
Hansel Maurits Heden berhak mengambil mistress atau menikmati hubungan lain.
Daphne Elodie Aureus memperoleh hak yang sama.
Dan sejak saat itu, keduanya tidak lagi diwajibkan mempertahankan hubungan suami-istri di ranjang.
Di mata kerajaan, perjanjian tersebut dianggap adil.
Di mata Daphne, itu adalah kesempatan terakhir.
Sebab ia tahu, setelah seorang pewaris lahir, satu-satunya alasan yang mengikat suaminya kepadanya akan lenyap.
Masalah sebenarnya bukanlah apakah ia dapat memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri.
Masalah sebenarnya adalah berapa lama seorang wanita dapat mencintai seseorang yang sejak awal tidak pernah memilihnya?