ZanitaNoldi
Hidup itu pilihan yang terkadang tidak berjalan seperti yang diinginkan layaknya Zani yang dari awal berbeda dengan anak-anak lainnya. Bukan karena ia berbeda, melainkan karena waktu yang diberikan kepadanya jauh lebih singkat. Dokter mengatakan ia mungkin hanya memiliki beberapa tahun untuk menjalani kehidupan yang bagi orang lain terasa begitu panjang.
Namun Zani tidak ingin menghabiskan sisa waktunya dengan menghitung hari.
Di tengah keterbatasannya, ia menemukan hal-hal sederhana yang membuat hidup terasa begitu berarti: tawa ibunya di pagi hari, persahabatan yang tumbuh tanpa rencana, langit sore yang selalu berubah warna, dan seseorang yang perlahan membuatnya berharap bahwa mungkin, untuk pertama kalinya, ia ingin memiliki masa depan.
Zani kemudian dihadapkan pada pilihan yang menyakitkan. Haruskah ia menjauh dari orang-orang yang dicintainya agar mereka tidak terluka ketika waktunya berakhir? Atau tetap tinggal, mencintai, bermimpi, dan menjalani setiap detik seolah-olah hidupnya tidak memiliki batas?
Sebab terkadang, hidup bukan tentang berapa lama seseorang tinggal di dunia, melainkan tentang seberapa dalam ia meninggalkan jejak di hati orang-orang yang pernah mencintainya.
Dan ketika waktu Zani semakin menipis, ia mulai memahami satu hal: mungkin ia memang tidak diberi banyak waktu untuk hidup, tetapi ia masih punya cukup waktu untuk membuat hidupnya berarti.