penasyana
- Reads 45,441
- Votes 3,301
- Parts 42
Bagaimana caranya menyembunyikan sesuatu yang bahkan dirimu sendiri belum sepenuhnya memahaminya?
Arum Stephanie belum menemukan jawabannya ketika ia berdiri di balik dinding bata ekspos rumah makan Padang itu, kedua tangannya mengepal di sisi tubuh, mendengarkan suara-suara dari area merokok yang seharusnya tidak ia dengar.
"Luna itu montok, berisi, padat. Cocok buat Arkana yang badannya kurus begini." Suara Pak Ambor terdengar penuh semangat. "Kalau Arum... ya, kamu tahu sendiri. Badannya kecil, mungkin makannya juga sedikit."
"Bener, Pak. Lihat aja mantan-mantannya Mas Arka. Veronica kuliah di London. Della pramugari, jago empat bahasa. Kelas semua. Nah, Mbak Arum... susah saingan."
Arum tidak menunggu kalimat berikutnya. Ia berbalik dan berjalan pergi, kantong plastik berisi makanan untuk keluarga Rieke masih tergenggam di tangannya. Kata-kata itu-nggak standout, biasa aja, susah saingan-menancap seperti duri yang terlalu kecil untuk dicabut. Ia tidak tahu bahwa beberapa meter darinya, di area merokok yang sama, seseorang memilih untuk tidak bersuara.
Seminggu kemudian, Arum melakukan hal paling bodoh sepanjang enam tahun kariernya.. ia ketahuan memotret Arkana Verdon diam-diam. Bukan untuk dirinya sendiri-untuk Della Naura, mantan Arkana yang setiap malam mengiriminya pesan memohon foto terbaru.
zzzh.
blitch itu seharusnya tidak muncul. Tapi Arkana menoleh.
"Hapus."
Arum menghapusnya dengan jemari yang bergetar, tapi itu belum cukup.
"Ponsel kamu menginap di saya. Satu kali dua puluh empat jam."
"Mas nggak bisa-"
"Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan Informasi Elektronik dapat dipidana. Pasal 27 ayat 1. Pasal 30 ayat 1. Pasal 32 ayat 1."
Ia menjeda, matanya menatap lurus ke mata Arum. "Kamu ingin saya lanjutkan, atau kamu mau terima satu kali dua puluh empat jam?"