haniko125
Peristiwa ini terjadi sudah sangat lama, pada tahun 1990an. Dialami oleh mak Sari, seorang wanita berumur 50 tahunan. Mak Sari tinggal di sebuah desa terpencil di Cianjur. Desa yang masih menggunakan lampu minyak sebagai penerangan, dan di kelilingi hutan. Desa ini hanya ditinggalin beberapa ratus kepala keluarga, itu pun tersebar di seluruh desa, mengakibatkan jarak antara rumah masih sangat renggang. Tertuma rumah-rumah yang berada diujung desa, mungkin seratus meter sekali baru akan ditemukan rumah. Mak Sari mempunyai profesi penanam padi, namun saat tidak sedang musim tanam padi ia mengandalkan keahliannya yang lain untuk mencari nafkah, yaitu membantu wanita melahirkan atau biasa dibilang dukun beranak. Untuk pekerjaannya ini mak Sari tidak menerima uang sebagai bayarannya, ia biasa menerima hasil kebun atau hasil pertanian. Tapi mak Sari tetap bersemangat melaksanakan profesinya yang satu ini, maklum di desanya saat itu tidak ada tenaga medis atau bidan sama sekali. Seluruh warga desa masih mengandalkan jasa-jasa tradisional untuk hal-hal yang menyakut kesehatan seperti melahirkan atau khitanan. Mak Sari juga sudah cukup terkenal di desanya, seluruh warga sudah tidak meragukan lagi kemampuannya. Mak Sari tinggal sendiri di sebuah rumah gubuk, sebenarnya ia mempunyai seorang cucu laki-laki. Tapi ia bekerja di luar desa, dan tidak setiap hari pulang. Tapi ketika ia pulang, ia selalu membawakan bahan makanan untuk mak Sari. Mak Sari tidak pernah keberatan tinggal sendiri, selain ia memang sudah terbiasa, ia juga tidak mau menyusahkan orang lain. Apa lagi setelah kematian suaminya beberapa tahun yang lalu akibat sakit, ia adalah wanita yang cukup mandiri.