Apriyaniaqish
Karena, dari awal sudah ku sadari aku menggenggam duri.
Namun, entah antibiotik apa yang terus tersuntik dalam batinku, aku kebal. Akan semua, aku kebal, oleh rasa sakit bernama luka.
Tapi, sakit tak sendiri. Ia bersama senyuman, selalu.
Lalu, hadirmu menamparku, adamu membuat kebal itu semakin tulus. Mengintimidasi sakit dengan senyuman yang nyatanya remuk nan rapuh.
Aku mencintai kalian, Rafa Maulana Winata.
Kamu, dan kesakitan yang baru.