ArumMentariDwi's Reading List
3 stories
Caramel Macchiato by ariqohf
ariqohf
  • WpView
    Reads 9,578,242
  • WpVote
    Votes 336,829
  • WpPart
    Parts 50
[CERITA INI SUDAH DITERBITKAN] Dia, seperti Caramel Macchiato. Dibalik tawanya, dia sedih. Dibalik keceriaannya, ia menyimpan luka. Semua orang hanya tahu bahwa ia adalah seseorang dengan sejuta keceriaan yang ia tebarkan tanpa tahu ia juga mempunyai sejuta kenangan pahit yang ia tutupi semanis mungkin. Tapi, tak ada minuman yang tak pernah habis walau terus saja diminum, bukan? Semakin lama, caramel yang ada diatasnya itu terkikis. Lalu, jika caramelnya sudah habis, akan ada rasa kopi yang pahit. Mungkin sedikit pahit karena sudah dicampur oleh gula dan susu. Dan lama lama, dia sudah mulai menampakkan kesedihannya. Membuat semua orang bertanya. Tetapi Ia tetap berusaha untuk menyembunyikannya semanis mungkin walau mungkin tak semanis dulu. Copyright © 2014 by Iffah Ariqoh.
Ensconce by ariqohf
ariqohf
  • WpView
    Reads 161,411
  • WpVote
    Votes 14,790
  • WpPart
    Parts 8
Sejak kapan sih, aku jadi hobi ngintipin orang? Dan sejak kapan, aku rajin nulis buku harian kayak gini? Ah, sejak kapan aku salah tingkah kalau dia melihatku dengan tidak sengaja? Kalian tau nggak, kenapa aku seperti ini? Perkenalkan, aku Norika Refania, sudah 17. By the way, ini rahasia, jangan sampai yang lain tahu. Oke? Aku tahu, kalian bisa menjaganya. Copyright © 2015 by Iffah Ariqoh.
Vian by AyuRahayu4
AyuRahayu4
  • WpView
    Reads 756
  • WpVote
    Votes 55
  • WpPart
    Parts 11
"Jangan bergerak!!" teriak sebuah suara tiba-tiba. "Kalau kalian tidak mau mati, serahkan barang-barang yang kalian bawa itu!" teriak yang lainnya lagi. Sungguh suatu keberuntungan yang luar biasa hari ini bagi sekelompok penyamun itu, bisa bertemu dengan bangsawan atau pedagang atau apalah yang penting barang bawaan mereka lumayan banyak sedangkan pengawal mereka hanya empat orang, mungkin hanya tiga malah, karena yang satu pakaiannya lumayan mewah. Mungkin ia anak majikan pengawal-pengawal itu. Dilihat dari jumlah kelompoknya yang 15 orang itu, ia yakin mendapat tangkapan besar hari ini. Benar-benar hari yang beruntung. Sedangkan yang mereka teriaki masih diam diatas kudanya masing-masing. "Apa lagi yang kalian tunggu! Mau menunggu mati rupanya kalian." Ia pun mulai mengangkat pedangnya. Dua pengawal langsung sigap melindungi majikannya. "Tunggu, baiklah kami akan menyerahkan barang-barang kami tapi kalian harus melepaskan kami berempat. Bagaimana?" "Pangeran..." kata pengawal disebelahnya dengan lirih.