My imagination?
4 stories
Acc Dok? (TERBIT) by giardanila_
giardanila_
  • WpView
    Reads 3,434,745
  • WpVote
    Votes 164,105
  • WpPart
    Parts 43
Kepada : dr. Erlangga Abiandra Pemohon : Aranea Chrysana Puspandari Perihal: Permohonan Pemberian Jarak Saya, Aranea Chrysana Puspandari, meminta dengan hormat agar dr. Erlangga Abiandra bisa mengurangi intensitas pertemuan tidak sengaja di antara kita yang akhir-akhir ini meningkat pesat. Saya selalu hipertensi tiap kali harus berinteraksi dengan Dokter dan itu tidak baik bagi lonjakan tensi saya yang masih muda ini. Saya tidak memahami apa yang terjadi, tetapi saya terancam aritmia juga karena Dokter selalu saja mengucapkan kata yang ambigu dan berpontensi salah kaprah. Saya cuma ingin hidup damai dan berumur panjang agar selalu bisa mencintai para oppa saya dengan tenang. Harap dipertimbangkan. Pemohon, Aranea C. Puspandari Disetujui/Tidak Disetujui, Erlangga Abiandra [PS; Diagnosis: Kamu jatuh cinta sama saya.]
... by radinazkia
radinazkia
  • WpView
    Reads 10,237,907
  • WpVote
    Votes 99,223
  • WpPart
    Parts 9
True Stalker by sirhayani
sirhayani
  • WpView
    Reads 34,009,872
  • WpVote
    Votes 1,263,750
  • WpPart
    Parts 32
Adaptasi True Stalker sudah tayang di Vidio! 🎬 - Aku adalah stalker. Itu sebuah hobi? Bisa dibilang begitu. Tetapi, aku hanyalah seorang gadis SMA yang duduk di bangku kelas X. "Lo udah tahu kelakuan gue di sekolah. Satu cara supaya gue bisa tahu kalau lo beneran tutup mulut." "Apa?" "Mulai hari ini, lo jadi cewek gue." Dan... hobiku itu menjadi sebuah bencana. Copyright©2016 by Sirhayani ______ Sudah tersedia di toko buku terdekat dan sebagian part di work ini sudah dihapus karena telah terbit mayor.
Revan & Reina by bellawrites
bellawrites
  • WpView
    Reads 8,954,207
  • WpVote
    Votes 168,792
  • WpPart
    Parts 16
[TELAH DITERBITKAN & DIFILMKAN] Pandangan Reina dan Revan beradu. Dan, hal pertama yang mampu gadis itu lakukan adalah memejamkan kedua matanya sambil menghirup udara sebanyak mungkin. Sementara ia menyusun kata demi kata untuk mengurai penjelasan, justru Revanlah yang pertama kali membuka mulut. Memecah keheningan yang janggal. Meski begitu, ekspresi Revan terlihat muram. "Gue ngerti kok, Na. Tanpa lo jelasin pun, gue bisa mengerti," Revan melempar pandangannya ke arah lain. "Karena itu satu-satunya hal yang mesti gue lakukan ketika dia kembali." Reina masih terdiam. Perasaannya teraduk-aduk. *** Sebab Revan percaya, hati yang terluka hanya perlu waktu untuk sembuh. Namun, bukankah rasa kerap berjalan beriringan dengan anomali? Kini, kebahagiaan pun masih bertumpu pada ketidakpastian.