KareninaAchmad
PENJAJAH HATI
"Good morning?" Daren menyapaku.
"Morning, too," jawabku pendek.
"Kenapa Rina tidak menatap balik? Benci? Why? Padahal kamu Pengkhianat cintaku!"
"Sudahlah Daren! Kau masih saja menuduh yang bukan-bukan!"
Aku sebel sekali padanya, tunangan baru sebulan saja, sudah mendikteku aneh. Mending kalau itu benar, dia boleh memaki sesuka hati. Aku menyesal memilih dia menjadi calon imamku kelak. Posesif.
Rasanya bunga yang kusiram pun ikut merasakan kegelisahan. Mereka tidak terlihat segar. Inginnya aku menghambur ke dalam kamarku, agar si pencemburu itu tak kelihatan mata. Tapi kukuatkan hati. Bersabar, agar menjalani rumah-tangga dengan tegar, nanti bersamanya.
Dia masih saja berdiri di sana, dalam teras rumahku. Sudah kebiasaan dia, selalu sarapan pagi di rumah. Alasannya masakanku enak. Aih ... laki-laki yang sangat aneh. Lebih aneh lagi aku mencintainya.
"Rina, tolong ke sini sebentar!"
"Nanti lah Kak, belum disiram semua tanamannya."
"Cepatlah!