sugiryo
- Reads 181
- Votes 17
- Parts 42
Malam ini dan seperti malam-malam sebelumnya aku hanya duduk di depan notebook tua andalan keluarga yang sudah tak berbatre karena jatuh hingga pecah. Dan aku, belum bisa mengganti dengan yang baru. Jemariku masih menari-nari di atas keyboard-nya yang beberapa huruf sudah tidak lagi jelas terbaca. Dan itu tak masalah buatku karena Pak Sukarman, tutor mengetik sistim buta yang pernah menggemblengku dengan gayannya yang khas dan tegas hingga aku mahir mengetik tanpa harus melihat huruf di keyboard. Waktu itu, di tahun 1993, aku pernah mengambil kursus mengetik 10 jari. Rupanya aku masih bangga dengan keterampilanku yang satu ini.
Suara dengkuran anak-anak dan istriku menjadi teman setiaku yang mampu membuatku fokus pada momen-momen itu. Momen di mana aku sekarang lupa apakah aku dulu pernah menuliskannya. Apakah dulu aku pernah memimpikannya?
Sementara waktu terus merangkak tak kenal berthenti. Tidak seperti alat penunjuk waktunya sendiri yang kadang berhenti ketika kehabisan batre. Begitu pula kehidupan ini. Selalu berjalan tak boleh mengenal berhenti. Betapapun rumitnya dan pahitnya kehidupan akan terus berjalan mengikuti setiap lekukan yang ada. Seperti air yang selalu mengikuti bentuk tempatnya.
Dan aku akan terus menyusuri semua waktu dan tempat yang pernah aku singgahi dengan notebook tua ini. Di sinilah aku akan memulainya. Pada lembaran pertama yang masih membekas di ingatanku. Lembaran penting yang akan aku buka lebih dulu.