Perkenalkan, aku puisi
Aku hanya rasa
Yang menjelma dalam kata
Perlahan melilit tanpa rupa
Hingga akhirnya turun ke hati
Setidaknya biarkan aku memanggil namamu
Tanpa perlu menyebut namamu
Merengkumu lewat sajak-sajakku
Sekali atau dua kali
Lagi dan lagi
Sial! Aku tak bisa berhenti
Serpihan-serpihan kekecewaan, kesedihan, kekelaman, kegelapan, ketidakpastian, kehilangan dan juga kematian itu sendiri yang menjelma menjadi kata-kata.