rifdazhr's Reading List
4 stories
Love Basketball by naddhe
naddhe
  • WpView
    Reads 13,003
  • WpVote
    Votes 343
  • WpPart
    Parts 5
Devina Addsya seorang cewek manis yang benci anak basket tanpa alasan. Sampai-sampai dia juga benci olah raga itu. Tapi anehnya, dia adalah ketua cheerleaders disekolahnya. Jelas aneh lah, orang dia benci anak basket sampai ke olahraganya eh tapi jadi ketua cheers yang tentu saja selalu identik dengan basket. Teman-temanya sering melontarkan berbagai pertanyaan pada gadis yang dicap sebagai gadis idaman semua cowok keren disekolah, seperti "Lo kenapa sih gak suka sama anak basket? Mereka kan keren bingiiiitz." Atau "Yaelah Dev, lo kenapa gak nyoba buka hati sama anak basket lagi sih?" atau juga "Lo kenapa muak banget sih sama anak basket?" ah pertanyaan nggak penting. Hft, dan Devina dengan wajah songong tapi tetap cantik itu-kata Mamanya sih- menjawab "Cowok basket itu berengsek semua." Kisah Devina ketua cheerleader di SMA Kebangkitan Bangsa yang anti anak basket akan dibungkus cantik dalam 'Love Basketball'
Kumpulan kata by Puzandy
Puzandy
  • WpView
    Reads 234,046
  • WpVote
    Votes 3,828
  • WpPart
    Parts 64
Hidup ini tentang berjuang. Disana hanya ada dua pilihan, tetap bertahan atau mundur☺️
Stand on the Ground by celiberty
celiberty
  • WpView
    Reads 200,668
  • WpVote
    Votes 8,148
  • WpPart
    Parts 25
Tentang Luke dan Lane yang saling suka. Mereka yang selalu berusaha untuk bertahan. Mereka yang selalu berusaha untuk percaya. Dan juga mereka yang selalu berusaha untuk setia. Namun ketika satu per satu kebenaran menyeruak ke permukaan, yang mereka butuhkan hanya satu; konsisten. Tapi nyatanya, rasa percaya diantara mereka bukannya semakin dalam, tapi semakin menguap. "Ini nggak akan susah, asalkan kita konsisten dan tetep percaya." © 2015 by celiberty
Revan & Reina by bellawrites
bellawrites
  • WpView
    Reads 8,954,170
  • WpVote
    Votes 168,792
  • WpPart
    Parts 16
[TELAH DITERBITKAN & DIFILMKAN] Pandangan Reina dan Revan beradu. Dan, hal pertama yang mampu gadis itu lakukan adalah memejamkan kedua matanya sambil menghirup udara sebanyak mungkin. Sementara ia menyusun kata demi kata untuk mengurai penjelasan, justru Revanlah yang pertama kali membuka mulut. Memecah keheningan yang janggal. Meski begitu, ekspresi Revan terlihat muram. "Gue ngerti kok, Na. Tanpa lo jelasin pun, gue bisa mengerti," Revan melempar pandangannya ke arah lain. "Karena itu satu-satunya hal yang mesti gue lakukan ketika dia kembali." Reina masih terdiam. Perasaannya teraduk-aduk. *** Sebab Revan percaya, hati yang terluka hanya perlu waktu untuk sembuh. Namun, bukankah rasa kerap berjalan beriringan dengan anomali? Kini, kebahagiaan pun masih bertumpu pada ketidakpastian.