deagstt's Reading List
4 stories
Another Time To Heal (DIBUKUKAN) by radinazkia
radinazkia
  • WpView
    Reads 579,855
  • WpVote
    Votes 6,257
  • WpPart
    Parts 4
Ini bukan sebuah pertemuan. Ini Norikha mengucapkan salam perpisahan. "Gue harus pindah ke Bandung, Van." "Nggak apa-apa, kan masih bisa telepon." Evan mengeratkan genggamannya, mengelus punggung tangan Norikha dengan ibu jarinya. "Kalau liburan, gue bisa ke sana. Bandung nggak jauh." Evan mendekat, dadanya sesak, paru-parunya terimpit, kedua matanya memanas, napasnya sulit. Meski mereka tak pernah saling berjauhan, Evan berusaha yakin hubungan mereka akan baik-baik saja. Sementara Norikha, tak sanggup lagi membendung air mata. Evan tersenyum tegar, yakin ini bukan pertemuan mereka yang terakhir. Norikha menangis, tak punya pilihan selain perpisahan. Evan berjanji akan terus mengabari. Norikha menunduk tanpa memberi jawaban pasti. Evan percaya apapun yang Norikha bilang, dan sehari berikutnya Norikha menghilang. • • • Copyright © by Radin Azkia
Aklimatisasi [ON HOLD] by Crowdstroia
Crowdstroia
  • WpView
    Reads 212,752
  • WpVote
    Votes 25,376
  • WpPart
    Parts 7
Hampir satu dekade Aksel Hadiraja bekerja di perusahaan keluarga, akhirnya dia memutuskan untuk keluar. Dia kemudian bekerja sama dengan seorang pengusaha dalam sebuah penelitian. Kejadian buruk datang dan mendadak Aksel dijadikan tersangka atas tindakan kriminal yang tak dia lakukan. Aksel harus berupaya agar dia bisa lolos dari praduga yang menimpa. Dan dia tahu betul siapa orang yang bisa dia mintai tolong untuk membantunya-walau mereka cenderung enggan bekerja sama dengan Aksel. Rahasia keluarganya sendiri sudah tersingkap, dan menyerah bukan pilihan kendati dia menginginkannya. Aklimatisasi © 2021 by Crowdstroia
Revan & Reina by bellawrites
bellawrites
  • WpView
    Reads 8,955,077
  • WpVote
    Votes 168,814
  • WpPart
    Parts 16
[TELAH DITERBITKAN & DIFILMKAN] Pandangan Reina dan Revan beradu. Dan, hal pertama yang mampu gadis itu lakukan adalah memejamkan kedua matanya sambil menghirup udara sebanyak mungkin. Sementara ia menyusun kata demi kata untuk mengurai penjelasan, justru Revanlah yang pertama kali membuka mulut. Memecah keheningan yang janggal. Meski begitu, ekspresi Revan terlihat muram. "Gue ngerti kok, Na. Tanpa lo jelasin pun, gue bisa mengerti," Revan melempar pandangannya ke arah lain. "Karena itu satu-satunya hal yang mesti gue lakukan ketika dia kembali." Reina masih terdiam. Perasaannya teraduk-aduk. *** Sebab Revan percaya, hati yang terluka hanya perlu waktu untuk sembuh. Namun, bukankah rasa kerap berjalan beriringan dengan anomali? Kini, kebahagiaan pun masih bertumpu pada ketidakpastian.