TRILOGI KITA TAK TERBATAS
2 stories
Eulogi dari Hidup Delusif by ggitama
ggitama
  • WpView
    Reads 398
  • WpVote
    Votes 18
  • WpPart
    Parts 6
Kisah tentang pertemuan tak terduga yang mengubah pandangan hidup sekelompok remaja saat mereka memasuki dunia perkuliahan. Andra, seorang mahasiswa yang cenderung introvert dan bermasalah dalam mengatasi keraguan batinnya, percaya bahwa hidup adalah suatu keuntungan dan abadi hanya ilusi. Di sisi lain, Abraham memiliki pandangan hidup yang berlawanan, meyakini bahwa rutinitas adalah hal yang penting dalam hidup dan bahwa pertemuan tidaklah kebetulan. Segala perubahan dimulai ketika Andra secara tidak sengaja bertemu dengan sekelompok mahasiswa lain dalam tugas sosial. Dia bertemu dengan Abraham, seorang pria atletis bak filsuf. Lewat pertemuan ini, Abraham membawa Andra pada perjalanan untuk mengenali dirinya sendiri dan apa yang sebenarnya diinginkannya dalam hidup. Dia juga bertemu dengan Arina yang terjebak dalam tuntutan norma sosial, menemukan jalan menuju kepercayaan diri berkat dukungan dari Gaby sang gadis populer, dan juga Ibra, lelaki yang taat beragama, membuktikan bahwa menjadi religius tidak harus membatasi pengalaman hidupnya. "Eulogi dari Hidup Delusif" adalah kisah yang menggugah tentang pertemanan, perkembangan diri, dan menerima perbedaan dalam perjalanan menuju kedewasaan. Cerita ini menampilkan perjalanan karakter-karakternya dalam menghadapi perasaan diri, seksualitas, agama, dan norma sosial.
Kita Tak Terbatas by ggitama
ggitama
  • WpView
    Reads 10
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
Pernahkah kau menyukai seseorang yang tak akan pernah menyukai apa pun, selamanya? "Dengar," kata Rey Pionardus menatapku. "Aku sudah memikirkan segalanya. Sebaiknya semestaku dan semestamu berada di jarak tak terbatas untuk mencegah ledakan-ledakan yang mengincar kita berdua. Aku ingin kita tetap ada dan dibatasi bentangan jarak yang tak terbatas." "Tidak," jawabku kesal. "Aku akan membuatnya terkendali, Rey. Karena kita tak terbatas." "Kekagumanku atas dirimu juga tak terbatas." "HENTIKAN, BANGSAT!" ujarku. "Berhenti, kumohon. Berhenti memberiku isyarat untuk maju jika pada akhirnya kau tahu bahwa aku sama sekali tidak ada kesempatan." "Lana, dengar-" ucapnya, namun aku memotongnya dan lagi-lagi menepis tangannya. "Semestamu membingungkan," kataku. "Kau hanya nggak boleh memberikan harapan ke seseorang dan membumihanguskan harapan itu sesukamu!" |Novel ini berisi kata-kata keras seperti sumpah serapah di kalangan remaja tanggung.|