BatharaGV
- Reads 211
- Votes 24
- Parts 10
Kadang, hidup gak berjalan sesuai rencana.
Dan kadang, itu bukan salah siapa-siapa, cuma hidup aja yang lagi ngelawak.
Aksara Hijau Purba - atau cukup dipanggil "Hijau" - pernah punya mimpi besar: kuliah di luar negeri, hidup sukses, lalu beli Lamborghini kuning metalik sebagai lambang kejayaan. Tapi hidup bilang: "Coba lagi nanti, bro." Pandemi datang, ayahnya jatuh sakit, dan mimpinya menguap pelan-pelan seperti embun yang kepanasan.
Sampai suatu malam, dia naik motor tanpa tujuan, hanya ditemani angin dingin kota Sragen dan playlist Spotify yang entah kenapa malah muter lagu galau.
Lalu... ada bus tua yang muncul begitu saja dari balik gelap. Catnya kusam, lampunya kuning temaram, tapi ada sesuatu dari bus itu yang terasa... mengundang.
Sopirnya tersenyum dengan brewok tipis dan mata jenaka.
"Kalau kamu lelah hidup, naik aja," katanya, santai.
"Tapi kalau mau cari jawaban... duduk di bangku kru."
Hijau masuk - bukan sebagai penumpang, tapi sebagai kru. Dan di situlah perjalanan dimulai.
Setiap malam, satu penumpang naik. Satu cerita tertidur. Satu mimpi dimulai.
Bus ini bukan cuma kendaraan. Ini semacam pengakuan diam-diam bahwa kita semua punya luka, punya ingin yang tak kesampaian, dan punya pilihan - bangun atau tetap tidur.