ajengmarisaa's Reading List
4 cerita
Should I Marry My Best Friend? oleh nadiadeviana
nadiadeviana
  • WpView
    Membaca 2,661,196
  • WpVote
    Vote 120,774
  • WpPart
    Bab 22
"Maaf Om, sebenarnya ada yang mau Genta sampein ke Om dan Tante.." dalam seketika, seluruh mata tertuju pada Genta. Tapi Genta tampak begitu tenang, dia selalu dapat mengatasi segala keadaan. "Sebenernya Genta dan Biya datang berdua kesini, karena Genta mau kasih tau ke Om dan Tante kalo kami sebenernya selama ini punya hubungan khusus. Dan aku pengen untuk ke jenjang yang lebih serius sama Biya." Ucap Genta lancar, selancar jalannya kereta express di gambir menurut Biya. Biya langsung menoleh dan menatap sahabatnya itu lekat-lekat, menunggu apakah sesaat lagi Genta akan tertawa terbahak-bahak karena semua ucapannya itu hanya cara ia untuk melucu di situasi yang rumit ini? Tapi ternyata tidak. Genta tetap tenang dan duduk dengan tegap seperti biasanya. Pandangan Biya beralih ke kedua orangtuanya yang kini menatap dirinya dan Genta dengan penuh selidik. Mencari kebohongan di mata sepasang atau lebih tepatnya yang baru mengaku sepasang kekasih itu. Untungnya Biya sadar akan gelagat orangtuanya itu, melihat sikap Genta yang tetap tenang, Biya tidak ingin menghancurkan bantuan sahabatnya ini. Biya langsung bersikap tenang sama seperti yang Genta lakukan. Walaupun sebenarnya ia benar-benar tidak mengerti ia sedang berada dalam permainan macam apa yang dibuat oleh Genta ini. Shabiya, Genta, Sahabatan, Menikah, Lalu? Keep reading dear =)
ROLANDARA oleh intanzs
intanzs
  • WpView
    Membaca 14,315,092
  • WpVote
    Vote 948,486
  • WpPart
    Bab 50
⚠️PART MASIH LENGKAP Roland Gideon. Bad boy tapi suka susu strawberry. Emosian tapi pas dimarahin sama Adara malah kicep. Wajah nyalat tapi hati hello kitty. Liat Adara nangis malah sok ikutan nangis, sambil bilang, "gue rela nangis demi lo, Dar. Tolong jangan bikin kejantanan gue hilang, berenti nangis ya?" ©2016 [Pernah diterbitkan oleh Bukune tahun 2016-2018]
Revan & Reina oleh bellawrites
bellawrites
  • WpView
    Membaca 8,954,259
  • WpVote
    Vote 168,792
  • WpPart
    Bab 16
[TELAH DITERBITKAN & DIFILMKAN] Pandangan Reina dan Revan beradu. Dan, hal pertama yang mampu gadis itu lakukan adalah memejamkan kedua matanya sambil menghirup udara sebanyak mungkin. Sementara ia menyusun kata demi kata untuk mengurai penjelasan, justru Revanlah yang pertama kali membuka mulut. Memecah keheningan yang janggal. Meski begitu, ekspresi Revan terlihat muram. "Gue ngerti kok, Na. Tanpa lo jelasin pun, gue bisa mengerti," Revan melempar pandangannya ke arah lain. "Karena itu satu-satunya hal yang mesti gue lakukan ketika dia kembali." Reina masih terdiam. Perasaannya teraduk-aduk. *** Sebab Revan percaya, hati yang terluka hanya perlu waktu untuk sembuh. Namun, bukankah rasa kerap berjalan beriringan dengan anomali? Kini, kebahagiaan pun masih bertumpu pada ketidakpastian.
Kapan Peka? oleh sarsaraah
sarsaraah
  • WpView
    Membaca 2,120,812
  • WpVote
    Vote 39,435
  • WpPart
    Bab 16
[SUDAH TERBIT] Yang diharapkan semakin gak peka. Yang mengharapkan semakin terluka. Hehehe sakit goblo.