penalna_
- Reads 310
- Votes 144
- Parts 11
Aliya tumbuh dengan satu pelarian, novel. Di antara halaman-halaman cerita, ia belajar tentang bahagia, tentang dicintai, dipilih, dan diperjuangkan, hal-hal yang tak pernah benar-benar ia rasakan di rumahnya sendiri.
Tubuh Aliya lemah. Ia sering keluar masuk rumah sakit karena penyakit yang tak kunjung stabil. Dokter menyebutnya sensitif terhadap stres, seolah tubuhnya ikut lelah setiap kali hatinya terlalu lama menahan luka. Orangtuanya yang sibuk nyaris tak pernah ada, sementara adiknya selalu lebih diprioritaskan.
Ketika Tante Dona mengajaknya pindah sekolah ke Kota Intan, Aliya mengira itu jawaban dari doanya.
Di sana, ia bertemu Zidan, pemuda dingin, tampan, dan nyaris sempurna. Namun, Zidan berdiri terlalu jauh untuk digapai. Bagi Aliya, Zidan bagai pemeran utama pria yang selalu menerima pemeran utama perempuan apa adanya. Memberi tokoh perempuan itu kebahagiaan setelah penderitaan panjang menghampiri.
Namun cinta tidak selalu tumbuh dua arah. Dan harapan, jika digenggam terlalu lama, bisa berubah menjadi luka.
Ketika batas antara fiksi dan kenyataan mulai runtuh, Aliya harus belajar satu hal paling sulit. Apakah mencintai berarti memiliki atau justru berani melepaskan?