ridafitriaauthor
- LECTURAS 149
- Votos 5
- Partes 6
Pada mulanya tiada yang peduli, selain pegiat seni tradisi Jharan Kencak itu sendiri. Dalam kemiskinan dan pengabaian, para seniman ini bertahan; bekerja serabutan sembari menunggu musim tanggapan tiba. Melelahkan memang, namun itulah pilihan. Sebab Jharan Kencak adalah warisan yang sudah menyatu dalam aliran darah mereka selama beberapa generasi.
Hingga tiba suatu hari, seorang pemuda yang tertarik dan peduli dengan kesenian ini, dan dengan tulus menjadi teman para seniman Jharan Kencak ini, mendengar keluh kesahnya, lalu bersepakat untuk memajukan kesenian ini, hingga lahirlah Paguyuban Jharan Kencak Lumajang.
Perjuangan pun berbuah, Masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Lumajang kemudian mengakui Jharan Kencak sebagai warisan seni budaya asli Lumajang yang harus dilestarikan, dan menetapkan Jharan Kencak sebagai Icon budaya Kabupaten Lumajang. Sejak tahun 2011 setiap Hari Jadi Kabupaten Lumajang diselenggarakan "Festival Jharan Kencak" di alun-alun dengan menampilkan 200-an ekor kuda. Dan pada tanggal 27 Oktober 2016, kesenian Jharan Kencak resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.