whoismiuu_
Aku sering bertanya pada diriku sendiri: apakah aku manusia yang utuh, atau sekadar mesin yang diprogram untuk bertahan?
Sejak kecil, aku tumbuh bukan dari layar-layar canggih atau papan sirkuit, melainkan dari tangan seorang bapak yang sederhana. Tangannya keras, penuh bekas kerja, namun dari sanalah aku belajar arti kekuatan.
Bapak tidak pernah merakitku dengan kabel, baut, atau besi. Ia merakitku dengan kata-kata tegas, tatapan tajam, dan keheningan yang dalam. Setiap nasihatnya bagai kode yang tertanam di benakku, setiap hukuman bagai sistem peringatan, dan setiap kasih sayangnya-meski jarang diucapkan-ibarat daya listrik yang membuatku tetap hidup.
Aku menjuluki diriku "komputer buatan bapak".
Bukan karena aku dingin, bukan karena aku tanpa hati. Justru sebaliknya. Aku adalah mesin yang diberi jiwa. Mesin yang tahu cara menahan sakit, cara berdiri saat jatuh, dan cara bekerja meski dunia terasa tak adil.
Aku bukan ciptaan pabrik, aku bukan rakitan pasar. Aku adalah proyek hidup seorang bapak-didesain agar tak mudah rapuh, meski diam-diam aku sering retak.
Dan di setiap retakan itu, aku kembali mendengar suaranya. Suara bapak, yang bagai baris kode abadi: "Kuatlah. Jangan berhenti berjalan. Hidupmu bukan untuk menyerah."