Khair4aisy's Reading List
4 stories
1001 Celoteh Tentang Puisi by DhediRGhazali
DhediRGhazali
  • WpView
    Reads 5,166
  • WpVote
    Votes 107
  • WpPart
    Parts 15
Membicarakan puisi tidak akan ada habisnya. Selama kata-kata tidak hanya cukup untuk sekadar berkata saat itulah puisi akan hadir sebagai sebuah jalan lain mengungkapkan sesuatu. Desah angin adalah puisi, gemericik air adalah puisi, helai napas adalah puisi, semua yang ada dan tiada adalah puisi. Dari waktu ke waktu, perkembangan puisi semakin liar saja. Kehadiran puisi digital misalnya, membuat puisi tak lagi menjadi sesuatu yang susah ditemui. Berbagai kemudahan menikmati puisi dengan media sosial adalah salah satu perubahan yang mencolok beberapa tahun terakhir. Namun demikian, puisi tetaplah puisi, terlepas dimana dan darimana dia terlahir. Puisi seolah hadir dalam setiap situasi, politik, ekonomi, sosial, agama, dan seluruh aspek kehidupan. Hal ini semacam virus yang menjangkiti seluruh kalangan masyarakat, dari yang kaya sampai miskin, yang sarjana hingga tukang becak pun tak lepas dari "kejahilan" puisi yang melukiskan mereka dengan kanvas yang rasanya tidak akan pernah kering. Berbagai polemik di negeri ini misalnya, tak juga luput dari mata tajam para penyair yang akhirnya menelurkannya menjadi sebuah puisi "pemberontakan" semacam puisi-puisi Wijhi Thukul. Perkembangan puisi tentu tak lepas dari pro-kontra. Pro-kontra ini jugalah yang mau tidak mau terkadang menjadikan puisi dan penyair sebagai sasaran empuk "bualan-bualan" yang akademis. Esai-esai tentang puisi semakin banyak dan beranak-pinak. Oleh sebab itulah penulis juga tak ingin ketinggalan untuk membuat celoteh-celoteh tentang puisi bertajuk "1001 Celoteh Tentang Puisi". Mengingat penulis bukan dari golongan sarjana sastra, apalagi masuk dalam buku "33 Sastrawan Paling Berpengaruh" yang kontroversial itu, maka penulis sangat menyadari masih dangkalnya uraian-uraian yang akan disampaikan. Meski demikian, rasanya bukan menjadi alasan untuk tidak menuliskannya. Selamat memperkosa puisi.
Serenade Kehidupan (TAMAT) by DhediRGhazali
DhediRGhazali
  • WpView
    Reads 25,296
  • WpVote
    Votes 1,598
  • WpPart
    Parts 183
Serenade kehidupan berisi sepilihan sajak dari awal tahun 2016. Sajak-sajak ini tercipta dari dialektika yang dirasakan, dialami, ataupun juga dilihat penulis. Betapa kehidupan adalah serupa lautan yang luas yang menyimpan berbagai hal di dalamnya. Kelu(h) /1/ Dada ini terlalu telaga, Tuhan. Hingga hujan berpuluh-puluh purnama tak jua membuat ia merubah wujudnya. /2/ Ada batu di dadaku, Tuhan. Hujan sepanjang musim; tetesan waktu yang purba tak juga mampu mengikisnya. /3/ Bibirku kelu, Tuhan terik matari memanggang tak juga mampu cairkan lidahku yang beku /4/ Kemana perginya percakapan kita, Tuhan baru saja aku mengucap salam tapi Kau diam. Berlalu tanpa pesan Yogya, 2016 Sajak yang sentimentil, lahir dari jiwa dan batin. Kehidupan tak akan tuntas dituliskan, namun menuliskan kehidupan adalah sebuah kebutuhan demi mengingat-ngingat nikmat Tuhan. Yogya, 01 Agustus 2016
NIKITA, SEBUAH NAMA SEBUAH CERITA by DeasyDeWanna
DeasyDeWanna
  • WpView
    Reads 281
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 37
Nikita, sebuah nama yang terlahir dari kerapuhan hati seorang wanita. Yang berjuang menemukan cinta sejatinya. Meski, berulang kali hanya luka yang ia dapati. Nikita, sebuah cerita tentang kenaifan seorang wanita. Yang mencoba bertahan dan mempertahankan cintanya yang mustahil.
Favorably (Complete) by ratuteenlit
ratuteenlit
  • WpView
    Reads 247,170
  • WpVote
    Votes 17,566
  • WpPart
    Parts 55
Seumur hidupnya, Cakra tidak pernah merasa seberengsek ini. Mempermainkan perasaan, mengumbar janji, serta memberikan harapan palsu pada dua orang perempuan. Cakra menghargai perempuan. Untuk yang satu itu benar. Tapi, soal Cakra adalah laki-laki berengsek, itu tampak lebih benar. Hingga suatu ketika, ada sebuah insiden yang membuatnya sadar siapa yang lebih dirinya cintai. Dan, Cakra harus kembali berjuang untuk membangun apa yang sudah ia hancurkan dulu. [] Copyright©2017 by Lidiaraa