byjulieeeee
- Reads 2,422
- Votes 278
- Parts 12
"Lu kayak mau jual panci."
"Panci juga butuh model, tau!"
"N-n-dik... i-ini... a-alamat-nya... g-ga-a a-ada RT-nya."
"Udah valid kok, yang penting KTP-nya asli. Kalian tinggal, yaa... pura-pura ngerti prosedur kalau ditanya."
"Prosedur apa?"
"Ya prosedur apa aja. Kalau kalian jawab meyakinkan, orang nggak bakal nanya lanjut."
"Oh berarti kalau ada yang bilang 'Ini alamatnya bener?' gue jawab 'Sesuai prosedur, Pak.' Gitu ya?"
"Jangan goblok, Ram," seru Bima pada akhirnya.
***
Sudah delapan bulan sejak Biru Adiyatma kembali ke rumah yang seharusnya ia tempati sepuluh tahun lalu. Bagi dunia luar, Biru adalah sebuah keajaiban. Dia selamat dari sindikat perdagangan manusia di Lampung, dia kembali ke pelukan ayahnya yang terpandang, dan dia memiliki Arga, kakak laki-laki yang siap memberikan dunia untuk menebus waktu mereka yang hilang.
Dia memakai pakaian rapi untuk menutupi luka parut di sekujur tubuhnya, dibahunya. Dia tersenyum saat Arga mengajaknya bicara, dan dia belajar dengan tekun seolah-olah masa depannya tidak hancur di tengah hutan sawit.
Namun, Arga mulai menyadari bahwa adiknya hanyalah sebuah cangkang. Biru tidak pernah mengeluh, tidak pernah marah, dan tidak pernah menangis. Biru yang mematikan emosinya; dia mengunci "Bima" di ruang gelap dalam ingatannya agar bisa menjadi "Biru" yang sempurna bagi keluarganya.
Waktu tak pernah benar-benar menyembuhkan; ia hanya menumpuk debu di atas janji yang terlupakan. Sebab, di balik setiap tawa yang terlewat, ada ketakutan yang bersembunyi. Dan di balik setiap keheningan, ada sejarah yang menuntut untuk diakui.