eputri1989
- Reads 177,584
- Votes 3,773
- Parts 21
Peluh membasahi tubuhku.
Aku berlari.
Entah sudah berapa lama.
Lorong panjang dan gelap itu seakan tidak memiliki ujung. Kakiku mulai terasa berat, napasku tersengal, tetapi aku tidak berani berhenti.
Ada seseorang di belakangku.
Aku tahu.
Aku bisa merasakannya.
Sesekali aku menoleh, tetapi yang terlihat hanya kegelapan. Tidak ada siapa-siapa.
Namun suara langkah itu masih ada.
Mengikutiku.
Semakin dekat.
Aku mempercepat langkah hingga akhirnya menemukan sebuah meja di sudut lorong. Tanpa berpikir panjang, aku merangkak ke bawahnya dan meringkuk sekecil mungkin.
Tanganku menutup mulut, menahan isak yang hampir lolos.
*Ya Tuhan... tolong aku.*
Air mata terus mengalir.
Suara langkah itu berhenti.
Sunyi.
Aku menunggu.
Satu detik.
Dua detik.
Tidak ada apa-apa.
Apakah dia sudah pergi?
Aku menajamkan pendengaran.
Tetap tidak ada suara.
Perlahan aku memberanikan diri keluar dari persembunyian.
Aku berdiri.
Lorong itu kosong.
Aku mengembuskan napas lega.
Mungkin aku berhasil lolos.
Mungkin sekarang aku aman.
Satu langkah.
Dua langkah.
Kemudian-
bulu kudukku berdiri.
Ada seseorang di belakangku.
Belum sempat aku berbalik, sebuah tarikan mendadak menyentak tubuhku.
Aku membeku.
Rasa takut yang kukenal itu kembali menghantamku.
Tidak.
Jangan.
Aku berusaha melepaskan diri, tetapi tubuhku seakan kehilangan seluruh tenaga.
"Tolong...."
Suaraku nyaris tidak terdengar.
Air mata kembali jatuh.
"Tolong, Pak...."
Aku memejamkan mata erat-erat.
"Jangan lagi...."
Dan semuanya berubah menjadi gelap.