Mapledelion
- Reads 962
- Votes 67
- Parts 11
Aku melihat ke sekeliling dengan teropong yang diberikan oleh orang tuaku. Sesekali ku lirik peta yang terkembang dan ku baca dengan sangat baik. Dimana sekarang aku berada? Entahlah. Seketika hatiku bersedih dan mutiara mataku tumpah tak terbendung. Aku khawatir. Sangat khawatir. Aku merasa telah jauh berlayar. Tapi, pelabuhan yang aku tuju tak kunjung tampak. Allah.. Dimana pelabuhan itu?
Ditengah samudera yang luas dan kelam, hujan turun disertai badai yang sangat kencang. Kapalku oleng dan tak terkendali. Aku panik tapi berusaha tetap tenang. Aku yakin pertolongan Allah akan datang padaku. Di tengah kegundahan hati ini yang sedang berada di samudra tak tau titik koordinatnya, kembali ku raih peta yang berada di atas meja bundar di tengah ruangan. Ku baca kembali dengan teliti dan benar untuk menemukan di titik mana aku berada? Aku merenung sejenak.
Akhirnya aku menemukan di peta tersebut jawabannya. Alhamdulillah. Pelabuhan itu hampir dekat. Aku yakin bahwa badai ini akan segera selesai. Dengan semangat dan rasa penasaran yang menggebu ingin mengetahui seperti apa pelabuhan itu. Bagaimana daratan di sana? Dalam hati aku berharap sangat bahwa pelabuhan yang ku pilih ini adalah pelabuhan yang benar. Pelabuhan yang dipilihkan Allah untukku.
Semoga aku pantas menginjakkan kaki di pelabuhan yang suci ini.