RinaMuliana's Reading List
2 stories
harusnya aku by phobiagayung
phobiagayung
  • WpView
    Reads 60
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
Aku menyadari bahwa kamu hanyalah segenggam permohonan yang tak pernah selesai di hadapan doa. Tentang pinta-pinta yang tak berujung. Tentang hati yang tak henti-henti membendung. Entah kali keberapa kamu membalikkan badan saat aku berhasil menemukan,entah kali keberapa pelukan hangat darinya di tepat kedua mata ku kau suguhkan. Hingga aku mulai tersiksa dengan keadaan. Lampu-lampu taman yang dulu kita kunjungi kini seakan menjadi objek yang menyebalkan, yang pernah menemani mengais kebahagian hingga akhirnya hanya penampung sesal. Harusnya aku yang ada di dekatmu, harusnya aku yang meredahkan tiap egomu,harusnya aku alasan kau membalut rindu.dan harusnya aku lah yang menjadi alasan dari bagian-bagian tawamu. Entah aku yang belum beruntung atau semesta yang tak lagi mendukung. Hingga waktu membawa kita berjalan saling memunggungi . Tak perlu khawatir,tak ada bagian dari tabah yang harus di sesali. Waktu akan membawa kita segera berlalu,merelakan yang telah hilang dan memendam segala dugaan. Membuat kita berdamai dengan diri sendiri tanpa perlu mengingat lagi, kedua dada kita pernah saling berjanji untuk mengingat sehidup hingga mati. Kini berbahagialah, rebahkan kekagumanmu di dadanya. Jangan lupa satu hal; datanglah kembali ke sini, jika kau butuh sesuatu yang bisa kau lukai.
Bidadari tak bersayap itu adalah kau by phobiagayung
phobiagayung
  • WpView
    Reads 27
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
Bidadari tak bersayap yang kusebut itu adalah kau; perempuan yang digaris takdir memiliki rasa sabar pada titik tunggu dan jarak temu. Bertubuh tinggi dengan pemilik senyum termanis, keindahan yang begitu mudah di hasilkan hanya dengan tertawa sembari menyematkan gigi gingsulnya. atau keindahan paling hakiki yang bisa begitu saja diurai. lengkap dengan cinta sederhana dan isi hati yang terkadang dipenuhi tanya Bidadari tak bersayap itu adalah kau; pemilik tanggal istimewa di bulan februari yang berlangit merah. lahir dan diberikan hari terbaik yang disebut ibu dari calon anak-anak mungilnya. pemilik rindu di waktu yang sama, di kota yang sama meski sesekali harus tidur di jam berbeda. Bidadari tak bersayap yang kusebut itu adalah kau; pembuat suara benturan notif untuk membangunkan tidurku setiap paginya. terbangun lebih awal sebab mengemban tugas menyiapkan banyak hal pelantun doa merdu sebagai cara meringankan berat beban tak seberapa suka puisi meski lelaki ini menulisnya berkali-kali Bidadari tak bersayap yang kusebut itu adalah kau; tubuh molek sebagai penggenap ragaku yang ganjil tempat pulang juga sarang bagi segala bentuk kecemasan lembar paling bersih di mana aku bisa membaca berita-berita baik ranting kukuh dan segar tempat daun-daunku memilih tinggal Bidadari tak bersayap yang kusebut itu adalah kau; pencipta rindu sepanjang hari, di selusin bulan, di setiap angka arlojiku yang tak memiliki jarum detik mahir berdandan apa adanya dan tak menyukai gemerlap lampu-lampu pesta Bidadari tak bersayap yang kusebut itu adalah kau; yang selalu bersedia dicintai dan mencintai seseorang yang menulis puisi ini.