desilinamthrh
Angin berhembus pelan meniup ujung hijab hitamku,menangis sendirian ditepian pantai yang hampir menggelap, disertai suara burung-burung beterbangan, menciptakan melodi yang mampu menembus jiwa,warna nila bercampur jingga menghias langit bagai panorama, mengukir tiap sudut langit menjadi paparan makna, bagai memberi sentuhan akan hati sang insan agar terus memandanginya.
Tetes demi tetes air mata terus mengalir, berharap apa yang sedang ku rasakan ikut menghilang bersama tetesan air mata yang sudah terjatuh, dari awal aku tau akhirnya akan seperti ini, tapi hati tetap pura-pura tak ingin tau, mengapa harus merasa kehilangan? bukankah dari awal memang hanya aku yang penuh dengan harapan, padahal ku tau bahwa berharap kepada manusia hanya berhadiah luka,andai aku bisa memutar balik waktu dan berharap tidak akan pernah melabuhkan hati ini kepadanya,ya rabb aku tau skenariomu indah,tapi mengapa hati ini enggan untuk menerima keadaan sekarang,sudah berkali-kali aku mengatakan pada diriku bahwa ini hanya perihal waktu,tapi waktu yang sekarang ku alami bukan perihal mudah,aku tau sehabis badai datang pelangi dan aku harap aku pun akan menerima pelangi sehabis badai, tapi bolehkah datang lebih cepat?