cokelattmanies
- Reads 3,267
- Votes 520
- Parts 17
Matahari sore jatuh pelan di antara pepohonan kampus.
Suara riuh mahasiswa bergulir seperti latar musik yang tak pernah berhenti.
Di tengah hiruk pikuk itu, kamera Aleya menangkap hal-hal kecil yang mungkin terlewat oleh orang lain: kucing tidur di bawah bangku, daun jatuh di atas buku catatan, tawa teman di dekat gerbang.
Baginya, dunia selalu punya cerita.
Dan ia senang menjadi penonton-diam, memperhatikan, lalu mengabadikan.
Namun sore itu, lensa kameranya berhenti pada satu sosok.
Seorang laki-laki duduk sendirian di bangku taman.
Buku terbuka di pangkuannya, tangan menggenggam gelas teh hangat, mata teduh menyimak baris kata seakan dunia hanya miliknya.
Ia bernama Elvan.
Tanpa sadar, Aleya menahan napas.
Ada keheningan yang indah di sekitar sosok itu-tenang, lembut, tak banyak tuntutan.
Tangannya bergerak refleks, klik, memotret.
Sebuah gambar tercipta.
Sebuah cerita diam-diam dimulai.
Yang Aleya belum tahu adalah-
foto itu akan menyatukan mereka.
Lewat permintaan maaf, tatap malu, jarak yang perlahan mengecil, dan rasa yang tumbuh tanpa suara.
Di balik lensa, dua hati bertemu.
Dan dunia berputar sedikit lebih pelan karenanya.