mayalestari123
- Reads 507
- Votes 188
- Parts 12
Di penghujung umur dua puluh lima Malaika harus menghadapi beberapa prahara. Dari pengkhianatan sang kekasih dengan rekan kantornya, mendadak resign, dan lebih parahnya sang adik yang tiba-tiba ngebet nikah. Di tengah huru-hara kehidupan yang begitu mencekik, semuanya terasa bagaikan jalan buntu. Maju kena mundur pun tak bisa, bagaikan sudah jatuh harus tertimpa tangga.
Hidup memang tak selalu mujur, karena kadang yang tak terduga datangnya bersamaan dengan nestapa. Tentang hidupnya yang jauh dari kata tenang, namun menyerah juga bukan solusi yang tepat. Hidup di tengah masyarakat yang masih terikat paradigma, memang harus banyak menelan rasa sabar. Dihadapi itu memang sebuah penyelesaian, namun berat rasanya ketika ujian datang tanpa kenal jeda.
Lalu bagaimana caranya menata hidupnya setelah kehilangan arah. Kembali dengan tangan kosong atau mencoba mencari peruntungan lainnya? Karena hidup memang sebuah pilihan lanjut atau cabut itu perkara siap. Siap menjadi pengangguran atau siap menyebar berbagai lamaran.
-Malaika Ranupadma Swastamita-