Widya_Capricorn
- Reads 3,058
- Votes 176
- Parts 3
Lorong-lorong dipenuhi suara tawa, langkah kaki, dan bisik-bisik yang seharusnya biasa. Tapi bagi Aqeela, setiap suara terdengar seperti ancaman. Setiap tatapan terasa seperti sedang mengawasi. Karena sesuatu sedang mengintai dan itu belum selesai.
Aqeela masih hidup-setidaknya secara fisik. Tapi jiwanya seperti terkunci dalam ketakutan yang tak pernah berhenti. Ia tidak lagi tahu mana yang aman, dan mana yang hanya menunggu waktu untuk menyerangnya.
Sampai malam itu datang. Dingin logam menempel di lehernya. Nafas seseorang menyapu kulitnya.
"Lo mau mati sekarang atau nurut sama gue?"
Itu bukan ancaman kosong. Itu awal dari permainan.
Permainan tanpa aturan, tanpa akhir yang jelas dan yang paling menakutkan?
Fattah.
Dia tidak pernah menyentuh Aqeela. Tidak pernah mengancam. Tapi cara dia menatap seolah dia sudah tahu semuanya.
Atau mungkin-dia adalah alasan semua ini terjadi.
⚠ PERINGATAN: Mengandung bahasa kasar, manipulasi psikologis, dan kekerasan mental yang dapat mengganggu.