ArandanaAmardika
Dika tahu betul bagaimana rasanya hancur. Kematian seseorang yang menjadi satu-satunya tempat dia bersandar, merenggut seluruh pijakan hidupnya, menyisakan puing-puing amarah, gengsi remaja, dan dendam pada, ayahnya sendiri. Diusir dari kenyamanan dan dipaksa bertahan hidup sendirian di rumah tua, Dika tidak punya pilihan selain bertarung di bawah bayang-bayang kemiskinan.
Di antara aroma asap angkringan tempatnya melipat gengsi dan dinginnya lantai perpustakaan sekolah tempat dia belajar menahan nafsu, Dika perlahan belajar satu hal: musuh terbesarnya bukanlah keluarga atau dunia yang tidak adil, melainkan egonya sendiri.
Didampingi bimbingan sunyi, Dika mulai merapikan masa lalunya. Dia membayar setiap jengkal kemandiriannya dengan keringat yang jujur.
Namun, ketika semua pertempuran lahiriah telah selesai dan badai sepenuhnya mereda, Dika mendadak dihantam oleh sebuah keheningan yang amat asing.
Sebab ketika hidup tak lagi tentang bertahan dari rasa sakit... lantas untuk apa seorang manusia harus terus berjalan?