layeeta
- Reads 562
- Votes 101
- Parts 7
Dingin itu dimulai sejak usia dua tahun.
Avery bahkan tidak benar-benar ingat wajah ibunya, hanya sisa hangat yang samar, seperti pelukan yang hilang terlalu cepat. Orang-orang bilang ibunya meninggal karena kecelakaan.
Sejak hari itu, rumah yang dulu terasa hidup berubah menjadi tempat yang sunyi... dan perlahan, menakutkan.
Adelar, ayahnya, tidak pernah benar-benar pulih.
Malam-malam di rumah itu dipenuhi bau alkohol, suara benda jatuh, dan langkah kaki berat yang selalu membuat tubuh kecil Avery menegang. Ia tidak mengerti apa yang terjadi, yang ia tahu, rumah bukan lagi tempat yang aman.
Sampai suatu malam, semuanya mencapai batasnya.
-
"Ya, aku punya hak!" suara Maris bergetar, tapi tegas. "Hak untuk membawa pergi anak adikku dari ayah tak bertanggung jawab sepertimu!"
"Tunggu! Maris! MARIS!!"
Namun Maris tidak berhenti.
Ia menggenggam Avery erat, membawanya pergi dari rumah itu, meninggalkan suara teriakan Adelar yang perlahan menghilang di belakang mereka.
-
Waktu berlalu.
Rumah sederhana itu tidak besar, tidak mewah, tapi cukup hangat untuk membuat Avery tumbuh tanpa bayang-bayang yang sama seperti dulu.
Hingga suatu hari-
"Namaku Avery! Nama kamu siapa?"
Seorang anak kecil berdiri di hadapannya dengan mata yang jernih, suaranya ringan, lembut dan halus.
"Lucu.." batin seseorang.
Namun bukan hanya itu.
Ada sesuatu yang aneh.
Sesuatu yang membuatnya... tidak ingin mengalihkan pandangan.
My first Story!, jangan lupa vote dan komen, ya! Enjoy!