[1] : NARASI LITERASI MANIS
4 historias
tegur sapa por fluoresens
fluoresens
  • WpView
    LECTURAS 6,378
  • WpVote
    Votos 808
  • WpPart
    Partes 2
[2/2] ❛❛Sometimes, it gets tiring to be the first to start everything.❜❜ © 2018 all rights reserved by fluoresens.
henti sejenak por fluoresens
fluoresens
  • WpView
    LECTURAS 13,553
  • WpVote
    Votos 1,563
  • WpPart
    Partes 4
[3/3] ❛❛Waktu berhenti sejenak dan kita bisa bernapas lebih dalam tanpa harus khawatir diburu waktu.❜❜ ❛❛Hah, gimana maksudnya? Kita mati gitu?❜❜ ❛❛Ngeselin banget sih, Lam.❜❜ © 2018 all rights reserved by fluoresens.
Ponselmu Taruh di Lemari Pendingin Saja por kahawah
kahawah
  • WpView
    LECTURAS 9,692
  • WpVote
    Votos 2,105
  • WpPart
    Partes 1
[cerpen] • cover by @supalidi on Instagram "Ponselmu itu taruh di lemari pendingin saja, lalu mari berbincang denganku di cuaca yang dingin ini," ucap pria asing yang duduk di hadapanku di kafe tanpa wifi ini. © kahawah 2018
Lovakarta por imaginayii
imaginayii
  • WpView
    LECTURAS 901,084
  • WpVote
    Votos 95,491
  • WpPart
    Partes 71
[COMPLETED] Lovakarta #1 Julukannya Hujan istimewa. Soalnya, Hujan yang satu ini selalu di damba-damba. 999 dari 1000 hati menyatakan ketertarikan padanya. Seharusnya, cerita ini mudah. Hujan tinggal pilih saja salah satu dari 999 hati yang ada. Tetapi, Hujan justru mengambil alur susah. Ia malah jatuh cinta pada 1 hati yang menyatakan penolakan mentah-mentah. Rintik yang menggelitik. Gerimis yang manis. Sampai Hujan deras yang melenyapkan panas. Hujan mencoba semua intensitas berusaha membasahi sang hati dengan kesejukannya. Hanya saja, tingkah sang hati yang selalu menghindar dari Hujan membuat jalan cerita jadi rumit pangkat tiga! Menariknya, beribu luka yang diterima Hujan istimewa sama sekali tidak dianggapnya sebagai alasan untuk menyerah... **** [COMPLETED] Lovakarta #2 Kata orang, cinta tak ubahnya sebuah impian. Butuh pengorbanan. Menuntut diperjuangkan. Tapi, pernahkah kau sampai menjadi Hujan sepertiku? Yang terus merintik, hanya untuk membuat dia tertarik. Selalu bersikap semanis gerimis, bahkan setelah berkali-kali ditepis. Juga tidak pernah lelah menderas, meski sama sekali tak dapat balas. Sungguh. Cinta ini bukan hanya menjadi ketidakadilan untukku. Lebih dari itu, aku tersakiti begitu jauh. Sampai tidak bisa membedakan apakah yang sedang kujalani adalah serangkai cerita, atau sekedar sebuah pengalaman terluka? Tapi, walau menjadi Hujan adalah patah hati terbesarku. Semua itu tidak akan membawa pengaruh. Tidak pula merubah sesuatu. Sebab, ujung-ujungnya, aku tetaplah aku. Si Hujan yang cuma tahu satu. Jatuh.